Selasa, 17 September 2013

Belajar dari Pengalaman

Akhirnyaaa... ngeblog juga. Ada cerita dari perjalanan saya beberapa minggu yang lalu, di awal bulan September ini. Perjalanan yang sebenarnya seperti nggak ada tujuannya tapi nggak nyangka ada hikmahnya. Mulai dari Bandung hari Jum'at 30 Agustus kemarin, menuju ke Bekasi. Menginap di rumah Bi Dewi semalam. Nggak banyak yang dibicarakan. Sekadar silaturrahmi. Besoknya, mampir ke rumah Enin Nunung. Menginap selama dua hari dua malam. Di rumah Enin Nunung hanya tinggal berdua, semua anaknya sudah tinggal di rumah masing-masing. Nunggu warung di depan teras rumahnya sama menunggu tanggal muda gajian pensiun suaminya. Meski udah di usia tua nggak ada pembantu. Semua pekerjaan rumah tangga masih dikerjakan sendiri. Enin Nunung mengajarkan aku jangan manja dalam hidup.

Dari Bekasi menuju Jakarta, tepatnya di Jalan. Penjernihan Dalam Bendungan Hilir. Di sana tinggal Ua Tati bersama suaminya. Ua Tati itu sepupunya mamah. Di rumah Ua Tati ini yang juga anak-anaknya ada yang tinggal di luar negeri dan di Jakarta. Lantai dua di rumahnya dijadikan tempat kost bagi yang bekerja di Jakarta. Berbeda dengan sebelumnya, Ua Tati senang berbicara. Mulai berbicara masa mudanya saat mahasiswa. Beliau mengakui meski nggak sampai Sarjana tapi bisa memiliki anak-anak yang kuliah dan sukses. Ada yang di ITB, ada yang di Trisakti. Beliau mengajarkan arti kejujuran dan berpikir logis. Meski terlihat logis banget tapi beliau sangat mendalami agama Islam. Mengobrol soal agama Islam dengan beliau juga seru. Bahkan, di rumahnya ada giliran pengajian seminggu sekali. Ua Tati juga sempat keceplosan dalam ceritanya bahwa ternyata di masa tua itu sangat merindukan anak-anaknya apalagi yang jauh di luar negeri. Suaminya seorang pensiunan yang masih setia menemani hari-harinya di rumah.

Kelihatannya akrab banget sama mamah. Dan, saya pun merasa akrab dengan beliau. Terasa nggak sungkan mengobrol dengan beliau. Saking sayangnya, saya diberi nasehat-nasehat menjalani hidup.
Menginap beberapa hari di rumahnya banyak pelajaran hidup yang saya dapatkan. Sekaligus mengenal situasi dan lingkungan Jakarta. Dulu, waktu kecil sekitar kelas 1 SD sampai dengan kelas 2 SD saya sempat bersekolah dan tinggal di daerah Rawamangun, Jakarta Timur. Kemudian pindah sekolah ke daerah Tasikmalaya.

Ada yang sedikit nyebelin pas naik bajaj mau ke rumah Ua Tati sempet muter-muter dulu. Padahal, bukan yang pertama kali mampir ke rumah Ua Tati ini. Sebelumnya, pas bulan Ramadhan juga sempet mampir dan nggak pake muter-muter dulu. Beberapa tahun yang lalu juga mamah suka mampir ke sini. Ini yang agak sok tahu itu supir bajajnya, bilang tahu jalannya dan ternyata nggak tahu. Pas saya dan mamah turun dari bajaj di depan pagar rumah Ua Tati malah terdengar celetukkan "Abis jualan ikan asin ya?", sambil nyengir kuda. Ih, ngeselin banget tuh orang. Nggak tahu sopan santun apa ya? Ah, sudah abaikan.

Selagi nginep di Benhil sempet minta ketemuan sama teh Dian. Hari pertama nggak direspon. Besoknya baru janjian di Plaza Semanggi. Pas jam makan siang ketemu di Loterria lantai satu Plaza Semanggi. Saya dan mamah datang duluan. Ketemu juga sama teh Dian yang langsung sibuk pesan makanan. Saya pikir mau mengobrol beberapa puluh menit gitu, tahunya nggak. Teh Dian malah langsung pamit dengan alasan masuk kerja. Sebelum pamitan sempat ngasih saya kue Hand Made dan baju-baju baru buat mamah dan saya. Bukan itu yang saya mau, sedikit waktu untuk mengobrol rasanya lebih berharga. Padahal, masih banyak waktu beberapa belas menit. Saya cuma butuh teman diskusi membicarakan masa depan. Selama ini, memang kurang komunikasi antara saya dan teh Dian. Itu rasanya seperti jadi anak tunggal, nggak ada teman berdiskusi. Diskusi sama mamah suka nggak nyambung. Mungkin karena mamah udah lanjut usia.

Pamitan dari rumah Ua Tati di Benhil kemudian ke Gambir, tujuannya mau ke Cirebon. Tapi, ujung-ujungnya ke stasiun Kota juga. Dari Gambir naik bajaj ke stasiun Kota. Kali ini beruntung ketemu supir bajaj yang ramah dan mau membantu penumpangnya dengan ikhlas. Nah, di sini kesabaran saya diuji. Kereta ke Cirebon katanya udah berangkat sore tadi. Udah menjelang Maghrib dan masih luntang-lantung di stasiun Kota. Saya mulai ngambek sama mamah karena seperti orang gaje (gak jelas) tanpa tujuan. Saya kemudian keluar dari stasiun Kota ke arah tempat Pedagang Kaki Lima berjejeran di trotoar. Mamah malah nangis-nangis nggak jelas. Menarik perhatian orang lain, untungnya ada yang mau mendengar curhatan mamah dan berusaha mau membantu. Satu hal saya mau mengucapkan banyak terima kasih pada PKL yang mau membantu mamah. Tapi, saya berjanji pada diri saya sendiri bahwa ini adalah yang terakhir kalinya. Mungkin saya merasa malu dengan pengalaman ini. Saya tahu dibalik kejadian ini ada hikmahnya.

Saya malu kebiasaan mamah selalu bilang kecopetan pada semua orang yang ditemui di perjalanan dengan modus untuk dikasihani. Dampaknya, bisa disangka sebaliknya kan? Saya juga jadi berpikir lama, pernah menulis kehilangan ponsel Nokia kesayangan hadiah dari teh Dian (kakak saya). Mungkin tulisan itu juga jadi kehilangan kepercayaan. Tapi, sungguh itu berasal dari pengalaman pribadi dan unek-unek saya mengalami kejadian pahit itu.

Ada orang yang masih belum tahu namanya bersedia mengantarkan saya ke terminal Kampung Rambutan naik busway. Hampir tengah malam sampai di Kp. Rambutan. Menunggu bus ke Bandung. Saya baru tahu namanya Idham dan sempat menulis no ponselnya di buku kecil saya karena ponsel saya abis baterenya. Saya sampe di terminal Leuwipanjang jam setengah empat pagi, hari Jum'at tanggal 5 September 2013. Beruntung ada supir taksi baik hati, tadinya menawarkan 50.000 ke Dipati Ukur saya tawar 30.000 mau juga akhirnya. Paginya, baru saya sms Idham mengabarkan saya dan mamah udah sampai di Bandung dengan selamat, itu tujuannya mencatat no ponselnya sewaktu menunggu bus di Kp. Rambutan.

Semenjak saat itu, saya nggak mau lagi bepergian bareng mamah atau sekadar mengantarnya. Cukup buat yang terakhir kalinya. Saya malah curhat pertama kali ke temen satu jurusan satu angkatan pula Ayu S. Bukan ke kakak sendiri ya, saya anggap saya ini anak tunggal. Buat ngobrol bentar atau diskusi aja nggak pernah apalagi ngeluh soal kayak gini.

Satu hal yang saya ambil, bahwa dalam perjalanan harus punya tujuan. Itu mutlak. Dan, bodohnya saya dengan sabar mau mengikuti ke mana pun mamah pergi. Mulai sekarang saya memilih untuk menyerah menemani mamah, saya memilih hidup mandiri. Banyak yang menyangka mandiri itu dengan menikah dan berumah tangga. Bukan itu, tapi mandiri finansial dengan bekerja. Pengen punya kehidupan sendiri. Masih jauhlah yah kalau soal menikah. Menikah itu nggak gampang. Bukan itu yang saya maksud, tapi bekerja, bekerja dan bekerja.

Sekian dulu ceritanya. Udah hampir jam dua pagi. Mungkin pembaca agak terganggu dengan postingan saya kali ini. Tapi, ini sebuah kejujuran, pengalaman dari perjalanan. Tentu saja banyak pelajaran dan hikmah yang saya dapatkan dari kejadian beberapa hari di awal September ini. Postingan selanjutnya akan lebih inspiratif lagi, saya akan coba cerita soal Festival Museum 2013 di Gedung PKKH UGM dari tanggal 8 - 13 September di Yogyakarta. Saya memang nggak hadir dalam acara itu tapi Ayu teman saya ikut jaga stand di sana, menjaga stand Museum Sri Baduga Bandung. Ayu bekerja di sana saat ini. Teman saya itu bawa oleh-oleh foto acara di sana. Nah, saya kepikiran mengabadikannya menulis di blog ini. Tunggu postingan saya mengenai Festival Museum 2013 yaaa... :D

Rabu, 21 Agustus 2013

Akhirnya Menyempatkan Nulis Blog


Banyak hal yang pengin diceritakan di bulan Agustus ini. Entah kenapa banyak banget kendalanya, entah itu netbook yang mendadak error dan mesti di install, perjalanan mudik yang melelahkan dan sebagainya. Ah, rasanya seperti ada yang mengganjal berminggu-minggu. Belum lagi utang review buku, ampuuun. Mau cerita darimana ya? Banyak banget yang terjadi di bulan ini, rasanya nggak cukup nulis semaleman ini.

Mungkin saya orang yang tertutup jadi banyak hal yang belum diceritakan. Jujur aja salah satu yang buat saya kepikiran terus itu soal skripsi dan akhirnya baru selesai sidang akhir bulan Juli kemarin. Menginap beberapa hari di rumah dosen selama ujian. Memang nggak kepikiran wisuda Agustus, semua serba nggak di duga, lulus sidang aja udah harus bersyukur (alhamdulillah). Itu pun karena dorongan dan keinginan mamah yang pengin saya lulus, ya hanya ini yang bisa saya lakukan untuk membahagiakan mamah saat ini. Memang belum bisa kasih materi yang lebih buat membahagiakan mamah. Ditambah perjalanan mudik Bandung-Bogor-Tasik-Bandung yang cukup melelahkan. Lebaran kali ini nggak terlalu ramai seperti tahun lalu, teteh kumpul bareng keluarga suaminya mas Puji di Jawa, keluarga bi Teti dan Mang Didin (keluarga Cirebon) kebagian kumpul di Garut, keluarga dari Bekasi (almarhum mang Ade) juga nggak ada, alhasil kumpul bareng keluarga di Tasik aja. Itu pun tadinya mau kumpul di keluarga almarhum bapak di Bogor tapi kok rasanya gimana gitu, lebih nyaman memilih di Tasik.  Masih berbahagia masih bisa berkumpul sama enin (panggilan nenek), ponakan2 yang lucu2, paman, bibi dan saudara sepupu di Tasik.

Ditambah harus ngetik ulang dan itu rasanya T.T, ada leganya ada pegelnya. Jadi, saya mampir dan numpang nginep di kosan temen lama Ayu Septiani buat bantu ngetik dan ngedit. Kalo soal makanan nggak merepotkan yang empunya kosan pastinya ya, udah ada budgetnya, hehe. Temen lama saya ini yang paling setia sama jurusan yang kami ambil, sekarang pun kerjanya berkaitan dengan latar belakang pendidikan yang diambil, salut. Kalo temen2 seangkatan yang lain udah pada kerja di bidang yang nggak ada hubungannya dengan latar belakang pendidikan yang diambil. Selama di kosan temen lama saya ini sementara pinjem laptop miliknya. Mungkin merasa punya orang lain jadi nggak tega sembarangan ngetwit atau nulis blog. Kalo ngetwit bisa aja lewat hp kali ya.

Rasanya perjalanan sebelum lebaran, pas lebaran dan selesai lebaran banyak kejadian yang saya alami, ada hikmahnya juga dan tentunya menguras air mata, keringat dan sebagainya. Ada banyak hal, apa saja itu? nggak bisa dijelasin di sini satu per satu kayaknya, nggak cukup. Satu hal aja lebaran tahun ini lebih banyak memetik hikmah dan pelajaran aja dari tahun-tahun sebelumnya. Saya yakin badai pasti berlalu (udah kayak judul film aja ya), semoga aja amiin ya robbal 'alamiin... Masih banyak yang harus dilalui, selesai dalam akademik bukan akhir dari segalanya mungkin awal dari kehidupan yang sebenarnya penuh liku dan perjuangan. Hujan pun ada redanya, begitu pun cobaan pasti ada redanya (menghibur diri), seperti judul lagu "I Won't Give Up" itu lagu bener2 ajaib dan memotivasi. Terima kasih ya Allah swt sudah membangunkan saya dari segala hal yang yang saya alami selama ini. Sekian dulu, udah menjelang dini hari, ngantuuuk.... Sebenarnya masih banyak hal yang mau ditulis di sini.


Sabtu, 20 Juli 2013

Cerita Dunia Maya

Selamat pagi, semesta. Pagi ini saya mau curhat sesuatu yang udah saya pendam beberapa bulan yang lalu. Terkadang terlalu banyak diam dan mengalah itu bukan berarti lemah. Bukan masalah percintaan ya, soal cinta no more galau (baca: nggak ada gunanya). Ini mengenai perjalanan saya dalam nge-blog di dunia maya. Di postingan sebelumnya pernah saya ceritakan bahwa saya mulai nge-blog di beberapa tahun lalu di blogspot.com yang isinya kebanyakan puisi-puisi galau karena waktu itu saya masih baru mengenal dunia kampus dan baru melek politik, tumplek deh macam-macam yang saya tulis di blog itu. Nah, akhir tahun 2012 kemarin saya baru terjun di kompasiana dan buat akun blog bersama di kompasaiana. Kesan saya nge-blog di sana itu seru, rame dan banyak kenal banyak orang, bahkan yang tinggal di luar negeri. Sering up date soal apa pun yang terjadi di tempat masing-masing kompasianer yang tinggal di luar negeri. Mulai dari tempat wisatanya, budaya, kuliner dan sebagainya. Rasanya seperti habis diajak jalan-jalan ke sana.

Memang saya akui karakter tulisan saya selalu cenderung masih ada unsur-unsur galaunya. Masih suka menulis beberapa puisi galau, misalnya puisi berjudul "Beban Di Pundakmu, Ibu" dan "Ini Jalanku" yang saya posting di kompasiana. Saya hanya menulis apa yang saya rasa, saya dengar, saya lihat dan saya alami, itu saja. Mungkin bagi sebagian orang itu hanya kegalauan yang tidak penting. 

Di kompasiana saya mulai mengenal mbak Anazkia yang aktif menyebarkan buku-buku ke pelosok daerah (baca: Hibah Buku). Saya teramat kagum dengan kegiatan mbak Anazkia dan akhirnya saya add di kompasiana, berteman di dunia maya juga sering berkomentar di beberapa tulisannya di kompasiana. Semua itu karena saya masih teringat dengan mimpi saya membuka Taman Bacaan yang masih belum terwujud. Sampai saya sempat mengajaknya duet untuk mengikuti lomba menulis novel dari salah satu penerbit mayor. Ternyata, saya kurang menyimak syaratnya bisa duet atau tidak, akhirnya batal deh kerja samanya dan ditambah mbak Anazkia menolaknya secara halus.   

Lama kelamaan kok saya merasa kurang diperhatikan oleh admin kompasiana. Tulisan-tulisan saya seringnya  tidak pernah masuk dalam twitter kompasiana. Saya memerhatikannya karena saya juga aktif buka twitter. Saya hanya diam memendam pertanyaan-pertanyaan selama beberapa bulan itu, "Kenapa oh kenapa?" Saya memang tidak akrab dengan admin kompasiana dan tidak seperti yang lainnya sering kopdar kalau ada acara-acara kompasianer. Saya seperti tidak layak lagi menulis di sana. 

Akhirnya, saya sering berkeliaran di twitter dan banyak berkenalan dengan para kuis hunter. Awalnya, saya tidak sengaja ikutan kuis buku dari penerbit KPG dan berhasil mendapatkan hadiah buku "Pulang" karya Leila S. Chudori. Itu sangat menyemangati saya untuk terus ikutan kuis buku. Masih berkaitan dengan mimpi saya soal buku dan saya memang suka baca novel. Di twitter pun saya follow mbak Anazkia dan di folbek. Semakin hari saya semakin semangat mengikuti beberapa kuis di twitter, nggak pagi, siang atau sore saya semangat ikutan kuis. Mungkin kerap jadi cibiran "nggak ada kerjaan yang lain apa?". Saya sama sekali tidak peduli dengan cibiran itu. 

Saya pernah sedikit mengkritik mas Damar (Tanam Ide Kreasi) soal goodreads yang sempat hangat diperbincangkan. Saya hanya sedikit berbeda pendapat dengan mas Damar soal goodreads. Menurut saya jangan terlalu berlebihan menanggapi suatu hal bahkan cenderung berprasangka negatif. Mas Damar mungkin  seorang idealis dan menutup akun pribadinya di goodraeds. Saya masih nyaman berada di goodreads bahkan sampai saat ini saya masih aktif up date baca buku di sana. Berpikiran positif aja, saya hanya membaca buku dan menulis review buku di sana, jangan terlalu dibebani prasangka berlebihan deh.

Saya tahu mbak Anazkia mencium perbedaan pendapat itu. Dan kerap seperti memihak pada mas Damar. Ya jelaslah, siapa sih saya ini? saya bukan siapa-siapa yang kurang pengetahuannya dibandingkan mas Damar. Satu alasan saja, saya hanya ingin kedamaian di dunia ini. Udah capek dengan perang pemikiran seperti itu. Kadang saya berpikir kenapa manusia di dunia itu saling menghujat, saling menjatuhkan lalu dimana kedamaian itu? Perang di mana-mana, korbannya anak kecil dan perempuan tua (ibu-ibu). Setidaknya, menahan diri dalam debat atau permusuhan gitu ya.

Mulailah merembet ke sana kemari. Saya merasa mbak Anazkia selalu kepo-in saya (baca: selalu mengurusi hal tentang saya). Saya kan pernah melamar pekerjaan di kompasiana waktu ada lowongan pekerjaan di sana. Mungkin karena saya tidak layak dan tidak memenuhi syarat kerja di sana saya tidak ada kabar panggilan atau apa. Tidak jadi masalah bahkan cenderung jadi pengalaman. 

Mbak Anazkia juga kebetulan dari Banten. Lagi-lagi berkaitan dengan mimpi saya yang belum tercapai soal Taman Bacaan. Dekat dengan orang-orang yang pernah saya kenal di kampus. Seperti seorang detektif yang pengen tahu ini dan itu soal saya. Maaf mbak Anazkia, saya tahu semua itu. Dan maaf, saya kurang menyukai hal itu. Kalau kita diomongin orang di belakang itu pastinya terasa sendiri seperti ada kontak batin, saya merasakan hal itu. Sungguh saya kecewa sama mbak Anazkia padahal saya teramat kagum sama mbak.

Sampai akhirnya saya jadi anggota WB. Mbak Anazkia seakan tidak pernah berhenti menguntit saya. Saya hanya ingin bilang, saya suka puisi dan wajar dong kalau twit-twit saya isinya sebagian kata-kata sendu atau galau. Manusia itu bermacam-macam mbak, tidak semuanya berkarakter ceria dan penuh semangat. Saya termasuk orang yang sedikit bicara, kurang suka hingar bingar dan suka menulis hal-hal galau, ada yang salah dengan itu? Mbak Anazkia belum ketemu saya langsung, tidak tahu situasi dan kondisi saya yang sebenarnya. Saya bisa sangat baik dan menjadi sahabat yang ramah pada seseorang yang mau menjadi sahabat saya.

Nah, ini bulan Ramadhan saya ingin meminta maaf sama mbak Anazkia. Saya akui memblokir akun twitter mbak Anazkia karena saya tidak mau dibuntuti terus oleh mbak. Satu-satunya cara dengan blokir, kalau unfollow kan mbak Anazkia masih jadi followers saya. Bukan karena saya membenci mbak Anazkia tapi saya merasa sedih selalu diurusi soal ini dan itu tentang saya. Perasaan saya tidak pernah mengurusi soal kehidupan mbak Anazkia, bahkan baru tahu mbak itu TKW dan dari Banten juga baru-baru ini. Sebelumnya, di kompasiana saya mengenal mbak Anazkia sebagai seorang penggiat Hibah Buku dan saya pengagum mbak. Saya belum tentu bisa seperti mbak Anazkia yang aktif.

Kemarin sore baru saya beranikan diri tanya langsung ke admin WB. Niat saya hanya klarifikasi soal kenapa saya memblokir mbak Anazkia. Terakhir saya tahu mbak Anazkia dekat dengan admin WB dan cenderung menyindir-nyindir saya di twitter. Saya juga manusia yang punya hati dan sabar pun ada batasnya. Saya sudah buka blokiran bukan berarti mau saling follow lagi. Maaf sebelumnya.


20h
Maaf min.. sy cm mau klarifikasi soal mbak Anazkia. Sblm'y maaf sy sdikit kritik, gk sehat menggunjing orang lain di blkg. lama sy prhatikan

20h
mbak Anaz itu seneng bgt ngurusi apa pun ttg sy, mulai dr kompasiana sy udh mulai merasa. pdhl sy kagum bgt dg mbak Anaz yg aktivis buku

20h
sy trlalu bnyk diam bbrp bln kmarin, sampai sy udh hilang kesabaran jd sy unfol mbak Anaz. Mohon maaf sblmnya, trim's :D salam

17h
Tolong dijawab dong min/mon... gak usah ngomongin orang di blkg, pamali. teknologi bukan buat ghibah loh ya.

17h
Maaf ya kk, mimin gak tau permasalahannya nih... Ada banyak admin dibelakang twitter WB

17h
Bingung mesti jawab gmn... Belum ngeh

17h
sy udah capek min.. diem trs, dikira gk tau diomongin di blkg. Biasanya kalo diomongin sm org lain itu suka terasa.

17h
ketemu lgsg jg blm pernah sm mbak Anaz, ya udh sy hanya cm mau bilang unek2, slma ini bnyk diem sy. admin yg merasa aja n deket sm mbak Anaz

16h
Ok. Skali lgi maaf ya, mimin yg skrg jaga beneran gak tau. Cb ntar mimin komunikasikan ke admin lainnya biar jelas ya...

16h
sama2 sy jg maaf ya min..mungkin krn sy trlalu lama diem. bkn masalah penting sbner'y, diomongin org kan mengurangi dosa2 diri.

16h
Sudah mimin lempar ke grup whatsapp para admin, harap bersabar nunggu kabar. Smua hrus ada klarifikasinya biar gak salah paham

16h
Pada dasarnya curhat secara personal admin via WB tidak diperbolehkan

16h
Apalagi menyangkut org lain

15h
oh ya silakan aja, mbak Anaz sering jg kan chat di fb? sy cm pengen tau aja alasannyaknp kok suka bgt ngurusi soal apa pun ttg saya, itu aja

2h
Salam kaka. Boleh minta nopenya

1h
buat apa ya?

28s
0857210xxxxx

Saya hanya menyayangkan kok teknologi dipakai buat kepo-in orang lain yang lama-lama bisa menjadi ghibah. Bukankah menggunjing itu termasuk ghibah? Dan itu hukumnya dosa. Mbak Anazkia pasti udah lebih tahu soal itu. Sekali lagi saya minta maaf sama mbak Anazkia kalau saya selama ini punya kesalahan yang tidak saya sadari sama mbak. Salam hangat buat mbak dan saya tidak mau memperpanjang soal ini. Menulis blog ini agar sama-sama tahu bahwa rasanya tidak enak kalau jadi bahan omongan di belakang, itu saja. Bahan renungan juga buat saya agar lebih baik lagi.

Senin, 15 Juli 2013

Cahaya Ramadhan

Senyumku ini senyum cahaya
Cahaya dari jiwa yang senang
Tak ada yang kau tak bisa
Di dunia ini kita terlahir untuk menang
Sebarkan semangat ini dengan ikhlas dan tulus
Kita menang kita sinari dunia

Kemenangan Ramadhan kemenangan semua
Yang ikhlas berjuang demi cinta
Sebarkanlah cahaya kemenangan Ramadhan
Menangku denganmu segarkan dunia

Mainkan nadamu, bakar semangat
Kalahkan egomu, sebarkan cintamu
Hidupkan lebih indah, nyalakan senyummu
Bersihkan hatimu, kita menang kita sinari dunia

Kemenangan Ramadhan kemenangan semua
Yang ihklas berjuang demi cinta
Sebarkanlah cahaya kemenangan Ramadhan
Menangku denganmu segarkan dunia

Kemenangan Ramadhan kemenangan semua
Yang ihklas berjuang yeye..
Sebarkanlah cahaya kemenangan Ramadhan
Menangku denganmu segarkan dunia

Kemenangan Ramadhan kemenangan semua
Yang ihklas berjuang demi cinta
Sebarkanlah cahaya kemenangan Ramadhan
Menangku denganmu segarkan dunia


Lirik lagu Cahaya Ramadhan - Nidji

Cerita Ramadhan

Marhaban Yaa Ramadhan :)) Postingan yang sempat tertunda menyambut kedatangan bulan Ramadhan. Mohon maaf lahir batin, menyambut bulan Ramadhan. Sebenernya pengin cerita sesuatu yang sedikitnya ada hubungannya dengan Ramadhan. Alhamdulillah masih diberikan umur hingga masih bisa menikmati kebersamaan di bulan Ramadhan tahun ini. Meski nggak ada yang terlalu istimewa kali ini. Hmm, cerita soal umur dan kematian. Memang agak *jleb kali ya ceritanya ini tapi saya hanya berbagi apa yang saya dengar, saya rasakan dan saya pikirkan. Itu aja sih, moga ada manfaaatnya juga dibagi di sini.

Ceritanya saya lagi rajin dengerin radio nih akhir-akhir ini. Ada beberapa stasiun radio favorit saya di Bandung, kurang lebih ada lebih dari empat stasiun radio favorit di Bandung. Hari Selasa, 9 Juli 2013 saya nggak sengaja kupingin acara Siliwangi di radio Ardan, penyiarnya Dimasta. Berawal dari cerita sms yang dikirim Kiki di Setiabudi, mahasiswa Itenas, lalu di telepon oleh radio Ardan dan on air beberapa menit. Kiki menceritakan kisah hidupnya selama ini dia mengidap penyakit kanker usus semenjak duduk dibangku SMP sampai sekarang. Vonis dokter pada Kiki memang sedikitnya membuat dia agak down menjalani hidup. Ditambah Kiki tinggal bersama ibunya yang single parent karena bercerai dengan ayahnya. Kiki tetep semangat karena selalu diberi semangat oleh sahabat-sahabatnya juga ibunya. Denger cerita Kiki on air di radio bikin air mata ini nggak terasa udah banjir seketika, sedih hiks... :'( Terakhir dia request lagu I Won't Give Up, salut sama semangat hidupnya! Keren.

Ditambah baca novelnya Suyatna Pamungkas yang berjudul "Bidadari Kirmzi". Cerita soal Nayla yang harus berjuang melawan penyakit leukemia (kanker darah). Sekali lagi cerita dalam novel ini sukses membuat saya banjir dengan air mata.

Dan tiba-tiba aja malem harinya tanggal 13 Juli 2013, Annisa (pacarnya saudara sepupu saya M. Bangkit Pratama). Sebenernya nggak terlalu penting menuliskan saudara sepupu saya itu :) *just kidding. Awalnya cerita ngalor ngidul alias ngobrol nggak penting. Lama-lama Annisa cerita waktu bulan Maret katanya dia baru aja dari Tasik, sempet mampir di rumah teh Aida (istri saudara sepupu saya). Dia melayat teman kampusnya yang meninggal dalam kecelakaan lalu lintas. Tragisnya keluarga temannya itu meninggal dunia sekaligus 3 (tiga) orang, yaitu bapak, ibu dan teman kampus Annisa itu. Innalillahi wa inna ilaihi roji'un. Lemes juga saya dengar cerita sedih itu dari Annisa. Ya ampun, ditinggal anggota keluarga sekaligus tiga orang dan menyisakan tiga orang kakak beradik. Nggak bisa dibayangkan gimana perasaan tiga kakak beradik itu ditinggal tiga orang yang paling disayangi. Sepertinya kalau saya mungkin nggak akan sanggup mengalaminya :'(

Nah, kemarin baru selesai baca novel dari Randu Alamsyah yang berjudul "Selalu Ada Kapal untuk Pulang". Baca novel ini ada senyum, tawa, terakhir banjir air mata. Paling menyedihkan itu pas baca bab 23 sampai akhir cerita, itu nggak berhenti bercucuran air mata. Mungkin nanti akan saya bahas lebih banyak soal novel di review buku. Sekarang ini saya lagi pengin cerita soal umur dan kematian. Merinding? Memang, bikin saya  merinding.

Kenapa tiba-tiba cerita yang bikin merinding sih? Saya cuma sedikit menyinggung dengan bulan Ramadhan. Mungkin lewat cerita yang saya dengar dan saya baca, Allah swt secara nggak langsung sedang berbicara melalui hati saya soal kematian. Kalau dalam bahasa saya, mungkin begini "Hei, Arlin. Kamu mesti berbahagia karena masih diberi kesehatan dan masih diberi umur panjang hingga sampai pada Ramadhan kali ini." Kurang lebih mungkin seperti itu. Alhamdulillah, terima kasih ya Allah swt, saya masih diberi kesehatan dan umur hingga detik ini.

Bukan untuk jadi cengeng tapi justru memotivasi diri agar memanfaatkan bulan Ramadhan kali ini dengan sebaik mungkin. Itu beberapa cerita di bulan Ramadhan yang berhasil menyentuh hati saya dan sukses membuat saya banjir air mata. Nah, adakah cerita menyedihkan atau membahagiakan yang teman-teman alami? Nggak usah sungkan share di sini ya... :)


Rabu, 03 Juli 2013

Pemenang Birthday Giveaway June 2013

Alhamdulillah, akhirnya selesai juga Birthday Giveaway June 2013 kali ini. Lumayan juga proses memilih kandidat calon pemenangnya, fiuuhhh... *lap keringet  Sempet bingung juga soale jawaban dari peserta yang ikutan kece-kece. Eits... tetap aja ya harus ada yang menang dan yang kalah. Dan mulailah pencarian calon pemenang, mulai dari baca jawaban yang masuk satu-satu. Kebanyakan jawaban dari pertanyaannya itu di rumah, kamar, perpustakaan, kamar mandi, toko buku. Jadinya saya pilih yang unik dan kece jawabannya. Ini dia keempat pemenang beserta jawaban unik dan kecenya:
  • Rahm@nur Hidayat (twit : rachma_nur89
    email :rachma_n@ymail.com ) - Pemenang novel Melbourne : Rewind
Tempat favorit baca buku di kotaku.. di ZOE-margonda, depok. Kalau kamu mampir ke depok, saya recomed bgt kamu mampir kesini, calling2 saya biar ktmuan. hahaha kali aja kita bisa autisme bareng kl baca buku disna.

ZOE itu caffe yg ada tmpat minjem bukunya, pun segala jenis novel ada disana, metropop, teenlite, novel terjemahan, komik, pun sastra juga ada dr jaman sastra NH. Dini, pramodya ananta toer, smpe jaman dewi lestari dan okky mandasari. Pokoknya komplit plit plit, kalo mau nyewa/numpang baca. murah cuma 8ribu,smpe seberapa kamu sanggup baca tuh buku. Dari (ZOE buka) jam 9pagi-smpe tutup lagi jam 10mlm, ngak bakal di usir kaya di Gramedia..kl cuma numpang baca doang gak beli. hehe

Di zoe, gak cuma boleh nyewa, kl km mau beli juga bisa..ngak cuma novel dan komik..segala jenis majalah pun ada disana, dr gadis, smpe majalam emak2 femina :D

Pokoknya asoy geboy kalo udah semedi disana (baca buku). Bisa2 lupa pulang, kalo kamu aus atau laperrr tinggal pesen aja. suasana tempatnya juga nyaman, ngak berisik, banyak pepohonan, ada toilet, ada musolah..
  • Intan Novriza Kamala Sari  (twitter @inokari_ dan email intankamala@gmail.com) - Pemenang novel Restart
Kak, kalo ditanya tempat favorit Intan buat baca buku, Intan rada bingung nih. Soalnya Intan udah addict banget sama buku, sejak duluuuu banget. Sejak baru bisa baca deh kayaknya. Jadi buat menikmati lembaran-lembaran buku, Intan sebenernya nggak butuh tempat khusus. Dimana aja, kapan aja, di situasi yang gimanapun, Intan masih bisa melahap buku-buku itu. Tapi karena harus milih, yowes, pilihan Intan jatuh kepada Ling-Ling Kafe. Nah, di kafe mungil nan cantik ini terletak persis disebelah toko buku langganan Intan. Disana, suasananya nyamaaan banget. Baca buku sembari menikmati sup buah segar, ditemani alunan musik yang lembut bener-bener bisa bikin lupa waktu. Pokoknya suasananya cihui banget deh kak. Kalo lagi penat sama tugas-tugas kuliah, terus mampir kesana, rasanya semua beban yang bergelayutan dipundak mendadak menghilang. Apalagi kalo kesana bareng pacar, dia sibuk ngutak ngatik program androidnya, terus Intan sibuk juga melahap buku yang Intan bawa. Nggak ada yang ngerasa dirugiin dan dicuekin deh :D
  • Arga Litha - Pemenang hadiah pulsa 25 rb
Paling suka baca buku taman Kota Pasuruan. Tepatnya di bawah pohon beringin terbesar yang langsung menghadap air mancurnya. Begitu teduh dengan semilir angin yang menggoyangkan poni saya. Berasa paling cantik dan pinter, gitu. Tahu kan kalau di sinetron, begitu cewek cantik lewat, ada angin yang memainkan rambutnya. Terus, cewek pinter juga identik dengan baca buku di mana saja, tak peduli tempat. Apalagi di taman kota, banyak cowok nongkrong. Sekalian TP, tebar pesona, hahai. Iseng banget ya diri saya? :D

Jadi, saat di lokasi itu, saya harus pintar-pintar pilih bacaan. Tidak bisa bacaan yang ‘berat’. Cukup yang bikin happy. Sejenis novel ataupun komik, layak dinikmati tempat termanis di kota saya. Sebab suasana di sini tidak begitu tenang. Ada banyak yang beraktivitas di sini. Selain saya yang membaca buku, ada beberapa cowok yang unjuk gigi dengan sepeda lipat, badminton serta beberapa cewek yang usianya di bawah saya, asyik ikutan TP-TP gitu. Saingan sama saya :D Sambil menyelam minum air, sambil baca buku yaa tebar pesona. Gak tahu nih, saya sukanya goda-goda cowok padahal saya sendiri gak mau digoda. Jadi sebelum dicubit, saya cubit duluan. Sebelum saya digopda, saya godain aja biar ke-Ge-eR-an dan saya tinggal baca buku lagi.

Saya tidak bisa membaca di tempat tenang. Malah banyak tidurnya kalau hanya suara nyamuk yang terdengar saat mata dan otak saya asyik mencerna kata demi kata. Karenanya, saat menikmati novel-novel gratisan yang datang, saya hijrah ke taman kota. Kalau baca di kamar, khusus saat baca kumpulan panduan jawab soal CPNS :D Ini baru bacaan 'serius nan berat'. Pakai semedi soalnya :p
  •  Intan Ratnasari (@intan_sparkyu) - Pemenang hadiah pulsa 25 rb
 Tempat paling favorit untuk membaca buku sebetulnya kamar tidur sendiri, tapi kalau menjurus ke tempat umum atau tempat yang banyak dikunjungi orang-orang di kotaku aku pilih Gramedia Pemuda sebagai tempat yang nyaman untuk membaca.
Arti nyaman di sini adalah disaat jatah uang saya untuk membeli buku sudah menipis, dan sangat penasaran dengan buku atau novel-novel terbaru yang sudah terbit tapi belum mampu membeli maka saya ke toko buku ini untuk "membaca" (jangan dicontoh ya):p.
Saya katakan nyaman karena di gramedia yang ini ada tempat duduknya hahaha, dan cenderung tidak terlalu ramai seperti gramedia satunya lagi jadi tidak perlu terlalu lama dipandang oleh satpam :D. Tapi kalau udah ada uang pasti saya beli kok :D
Dan kebetulan gramedia pemuda juga satu tempat dengan hotel dan dunkin donuts. Kalau saya lapar tinggal ke dunkin donuts aja (kalau pas ada uang :p)
Kenapa justru saya tidak memilih perpustakaan? Karena saya kurang suka suasana perpustakaan di kota saya, kadang terlalu bising. Kebisingan itu justru sering ditimbulkan oleh pegawai perputakaannya sendiri. Mereka sering ngegosip *duh* :(
Apalagi suara obrolan bapak-ibu pegawai perpustakaan ini ngga pelan....
Tampat lainnya yang nyaman yaitudi kafe atau warung kopi :)

Itu keempat pemenangnya dipilih berdasarkan jawaban mereka yang unik dan kece soale saya sekalian riset kecil-kecilan buat bikin cerita, misalnya tempatnya di kota yang ada di jawaban masing-masing. Di samping  itu, yang menyimak aturan mainnya dengan baik dan share giveaway ini juga nambah poin plus. Makasih semuanya yang udah ikutan giveaway ini dan yang belum menang jangan sedih ya, mungkin belum rezekinya bulan ini atau di giveaway saya ini. Tenang aja masih banyak kok giveaway bertebaran dimana-mana ^___^ Semangat berburu giveaway pastinya.

Selamat buat para pemenang ^___^ Moga nanti saya bisa bikin giveaway lainnya yang akan datang. Terima kasih teman-teman semuanya, booklovers dan penyuka giveaway (termasuk saya di dalamnya :D).

Selasa, 25 Juni 2013

UnforgotTEN Gagas Media (10 Buku Pilihanku)

Holaaa... kenalan dulu yuuuk! Saya Arline Widya Safitri, empunya blog ini. Memang terbilang baru bikin blog yang kebanyakan isinya tentang review buku. Sebelumnya saya punya blog juga beberapa tahun yang lalu yang isinya terlalu nggak penting hehe... pindah ke kompasiana kemudian kembali lagi bikin blog pribadi yang baru. Taraaa... inilah blog saya, isinya kebanyakan tentang review buku. Mungkin mulai tertular virus gemar baca buku di tahun ini dan jadilah blog ini tempat menuliskan review buku-buku yang udah dibaca.

Teringat quotes menarik dari Goenawan Mohamad : “Kemampuan membaca itu sebuah rahmat. Kegemaran membaca; sebuah kebahagiaan.”  Nah, mesti bersyukur masih diberi rahmat dan kebahagiaan membaca buku :D
Postingan ini saya ikut sertakan untuk #KuisUntukParaBlogger dari Gagas Media. Sekalian juga mau mengucapkan Happy Birthday To Gagas Media ^____^ Semoga selalu menerbitkan buku-buku kece yang ditunggu-tunggu pembacanya, amiin. Dan menyambut hari ulang tahunnya Gagas Media yang ke- 10 tahun akan membagikan 10 buku bagi 10 blogger yang terpilih. Mengucap do'a moga terpilih salah satu di antaranya, amiin. Wish me luck :)



Ini dia 10 buku pilihan saya (moga beruntung mendapatkannya) :

1. Refrain (cover film) by Winna Effendi


2. Hatimu : Cinta Yang Selalu Meragu by Salsa Oktifa


3. Biru Pada Januari by Aditia Yudis


4. All You Can Eat by Christian Simamora


5. Truth Or Dare - Kenangan Musim Hangat by Winna Efendi dan Yoana Dianika


6. Sweet Nothing : Denganmu, Tanpamu by Sefryana Khairil


7. Percaya : Yang Kutahu Tentang Cinta by Diego Christian


8. Restart by Nina Ardianti


9. Menunggu : Menantimu Di Hatiku by Dahlian dan Robin Wijaya


10. Harmoni : Cinta Yang Hitam - Putih by Wulan Dewatra dan Ollie


Itulah 10 buku pilihan saya, berharap bisa mendapatkannya ^___^ Moga ke- 10 buku pilihan itu mau berjejer rapi di rak buku dan menjadi pelengkap koleksi bacaan saya, amiin. Merapal mantra dan jampi-jampi biar dapat. *kedipin buku-bukunya :p

Kamis, 13 Juni 2013

[Review] Tadarus Cinta Buya Pujangga

Judul buku: Tadarus Cinta Buya Pujangga
Penulis: Akmal Nasery Basral
Penerbit: Salamadani
Cetakan: I, Maret 2013
Tebal: xii + 380 halaman
ISBN: 978-602-7817-19-7

"Soekarno tampak berkaca-kaca. Dia menjabat pria di depannya dengan kehangatan seorang kakak terhadap adiknya. Saya akan selalu berdoa kepada Allah agar Dinda kelak menjadi suluh penerang bagi bangsa ini, baik lewat karya-karya Dinda sebagai pujangga, maupun sebagai ulama."

Itulah harapan Putra Sang Fajar bagi seseorang yang masa kecilnya hidup bak seorang "pemberontak". Orang memanggilnya Malik. Ia lahir pada suatu Ahad, kala senja merona di langit Minangkabau. Kelincahannya selalu beradu riang dengan riak Danau Maninjau, nyalinya membuntal seolah hendak bergulat dengan Bukit Sibarosok. Ia lahir dan dibesarkan di lingkungan para ulama.

Namun, perceraian ayah-ibunya membuat dia berpaling dari keluarga, dunia luar pun menjadi tempat peraduannya baginya. Pendidikan formalnya terhenti, bahkan ia tak pernah sempat menamatkan Sekolah Desa. Beranjak dewasa, setelah berhaji dan menuntut ilmu di Tanah Suci, Malik memilih jalannya untuk berkiprah di negeri sendiri, menjadi pujangga. Sementara itu, bekal yang ia peroleh selama perantauan mengukuhkan kecakapannya sebagai seorang ulama.

Inilah kisah pergulatan Malik dengan lingkungannya, yang bertubi-tubi menempa watak dan lakunya, hingga kelak namanya mengharum sebagai seorang ulama-pujangga - yang lebih dikenal dengan panggilan: Buya Hamka.

Review:

Membaca novel ini seperti menelusuri sejarah negeri ini, menceritakan pada masa pemerintahan Hindia Belanda, zaman pergerakan hingga muncul nama Indonesia. Novel ini merupakan kisah hidup seorang ulama sekaligus pujangga, Buya Hamka. Banyak pesan moral di dalamnya, misalnya dalam prolog "Dua Bersilang Takdir" begitu besarnya hati Buya Hamka mau menjadi imam dalam shalat jenazah di depan jenazah yang di masa lalunya pernah memenjarakannya selama 30 purnama, akibat komentar-komentar tajam yang dilontarkannya terhadap PKI, partai yang saat itu sedang berbulan madu dengan Sang Proklamator. Satu pelajaran yang bisa dipetik: dendam tak boleh dilestarikan seberat zahra pun. Betapa pun beratnya. Betapa pun sulitnya (hal. 13).

Cerita masa lalu Malik yang penuh cobaan karena ayah ibunya bercerai. Malik mulai mengenal banyak buku dari mendengar bahwa Angku Zainuddin Labai El-Junusy membuka sebuah bibliotek, tempat penyewaan buku. Tak ada buku dalam bahasa Arab di sana, yang ada hanyalah buku-buku kisah Tionghoa-Melayu, kisah Tiga Panglima Perang, Graaf de Monte Cristo, kisah-kisah pertempuran pasukan Rusia melawan Jepang, surat kabar Bintang Hindia yang memuat karangan Dr. A. Rivai dari Eropa, dan banyak buku lainnya yang belum pernah sekalipun dilihat Malik (hal. 112).

Hingga ayahnya, Haji Rasul, melontarkan komentar, "Engkau ini jika besar nanti akan menjadi ulama atau tukang cerita, Malik?" Ingin sekali Malik berani menjawab, "Dua-duanya, Ayahanda!" Tetapi jawaban itu tak pernah keluar dari mulutnya (hal. 114).

Perjalanan hidup Malik membawanya menjadi anggota Sarekat Islam. Sang paman, Ja'far Amrullah, mengajak Malik untuk belajar di Sareat Islam yang bermarkas di Pakualaman, yakni Sarekat Islam Putih yang dipimpin oleh H.O.S Tjokroaminoto, sosok yang menjadi cercaan anak-anak muda revolusioner seperti Zai di Padangpanjang (hal. 156).

Saya mengenal Buya Hamka dari karyanya yang berjudul Di Bawah Lindungan Ka'bah dan sempat nonton filmnya juga beberapa tahun yang lalu bersama saudara sepupu di Tasik pada Hari Raya Idhul Fitri. Dan sekarang saya mengenalnya lebih dekat membaca novelnya yang menceritakan kisah hidupnya, hingga lahir dan dikenal dengan nama pena H.A.M.K.A yang nama lengkapnya Haji Abdul Malik Karim Abdullah. Juga baru tahu karya roman pertamanya Si Sabariyah dari membaca novel ini.

Ada kutipan yang perlu dicatat, "Malik: lakukan segalanya dengan niat mengharapkan keridhaan Allah saja. Ikhlas. Jangan harapkan pujian manusia." (hal. 171).

Ada beberapa kesalahan teknis (typo) di dalamnya, ".... itu lebih Berdasarkan keinginan ..." (hal. 129) huruf kapital terletak tidak di awal kalimat, ".... dari yang dIsyaratkan perkumpulan ..." (hal. 156), "Dalam perjalan pulang ..." seharusnya perjalanan (hal. 167). Itu mungkin beberapa kesalahan teknis yang saya temukan. Juga dalam novel ini kurang diceritakan bagaimana kehidupan ibunya setelah menikah dengan saudagar Deli. Banyak menceritakan kisah hidup ayahnya, Haji Rasul. Rasanya kurang lengkap tidak menceritakan keduanya setelah bercerai.

Terakhir saya beri 4 dari 5 bintang untuk novel ini, penuh dengan informasi sejarah negeri ini. Rekomendasi buat para penyuka buku-buku sejarah dan roman Islami. Banyak petuah positif bertebaran di dalamnya. Selamat membaca.

Kamis, 06 Juni 2013

[Review] Mr. Justice Raffles: Pencuri Legendaris dari Inggris



Judul buku: Mr. Justice Raffles

Penulis: E.W. Hornung
Penerjemah: Melody Violine

Penerbit: Visimedia

Cetakan: Pertama, Maret 2013

Tebal: x + 422 halaman

ISBN: 979-065-173-2

Orang kaya ternyata miskin, Orang jujur ternyata licik, Kita semua berpotensi melakukan apa saja – A.J. Raffles 


Sinopsis 



Imajinasi dan pandangan Raffles ke depan jelas cenderung mendahului perkataannya, bahkan ide-idenya akan mengkristal saat tuturnya mengalir, menjadi cukup gamblang bagi pendengarnya. – Bunny Manders –

Siapakah yang menduga bintang kriket itu ternyata pencuri? A.J. Raffles, pemain kriket pada siang hari dan pencuri amatir pada malam hari. Kali ini pencuri tampan ini bertekad mencuri demi membantu orang lain. Raffles tidak pernah menduga permainan kecil ini akan berujung menjadi pertarungan hidup-mati antara dirinya dan rentenir paling kejam di Inggris.

Dibantu adik kelasnya yang setia, Bunny Manders, Raffles harus selalu selangkah di depan lawannya agar tidak terjerumus ke dalam berbagai perangkap yang telah disiapkan. Sanggupkah Raffles dan Bunny menaklukkan Dan Levy, si lintah darat itu?

Review

Membaca novel ini teringat penjahat legendaris sekaligus pahlawan rakyat, Ned Kelly. Dulu pernah mendapat tugas baca novelnya pada mata kuliah Sejarah Pacifik. Novel yang berjudul Mr. Justice Raffles: Pencuri Legendaris dari Inggris menceritakan seorang pemain kriket sekaligus pencuri, yang bernama Raffles. Kisah ini diceritakan dari sudut pandang sahabat Raffles yang telah ikut berpetualang bersamanya, sahabatnya itu bernama Bunny Manders.

Tentu saja alasan Raffles mencuri hanya demi membantu orang lain. Tak disangka, dalam permainan kecil yang dilakukan Raffles telah menyeretnya dalam pertarungan hidup-mati antara dirinya dan rentenir paling kejam di Inggris, Dan Levy. Rentenir yang sangat kejam, pencari mangsa bangsawan yang terlilit hutang dan melipatgandakan uang yang dipinjamkannya.

Membaca novel ini terasa seperti masuk pada akhir abad ke- 19 dengan latar belakang London. Penerjemah mampu menjembatani pembaca memahami situasi pada masa itu. Terlihat detail dalam menemukan istilah-istilah yang terasa asing di dengar saat ini, misalnya mesin tik pada masa itu berbentuk seperti setengah topi atau Raffles menjuluki musuhnya sebagai Mr. Shylock.  Juga aksen bicara khas tokoh Dan Levy tanpa huruf “h” pun tak luput dari perhatian penerjemah. Meskipun demikian masih ada beberapa kesalahan teknis di dalamnya, saya menemukan typo pada halaman 125 (Carlsband, seharusnya Carlsbad), halaman 135 (mencengkamku, seharusnya mencengkramku), halaman 262 (sudahau siapkan, seharusnya sudah kau siapkan).

Semakin penasaran siapa sebenarnya yang membunuh si rentenir Dan Levy? Membaca novel ini selalu ingin membacanya sampai akhir cerita, membongkar teka-teki yang terjadi. Terakhir saya beri 4 dari 5 bintang. Novel ini recommended buat yang menyukai cerita berlatar sejarah, mystery atau kasus kriminal.