Minggu, 12 Mei 2013

[Review] Waktu Pesta

Judul buku: Waktu Pesta
Penulis: Dodi Prananda, Intan Kirana, Muhammad Mahdy dan Tya Winduwati
Penerbit: Elex Media Komputindo
Cetakan: Pertama, Februari 2013
Tebal: 300 halaman
ISBN: 978-602-02-0582-3
Harga: Rp 49.800


Buku antologi cerpen "Waktu Pesta: Pestanya Para Penulis!" yang merupakan hasil karya Dodi Prananda, Intan Kirana, Muhammad Mahdy dan Tya Winduwati memang terasa sekali konsep sastranya. Masing-masing penulisnya memiliki karakter gaya penulisan ciri khasnya sendiri. Seperti yang di tulis bersama tanda tangan ketiga penulisnya: "Kalau akan menjadi sama, buat apa? Karena itu membaca dan menulislah. Sebab dengan dua 'pekerjaan' itu akan membuatmu berbeda...".

Buku ini terdiri dari empat bagian: Waktu Pesta Bersama Cinta, Gelora di Waktu Pesta, Waktu Pesta Sang Imaji, dan Waktu Pesta "Ku". Di tiap bagian terasa satu cerpen yang menonjol dari semuanya. Misalnya, di bagian pertama "Waktu Pesta Bersama Cinta" yang terasa berbeda di antara yang lainnya itu "Cerita Ventura" karya Muhammad Mahdy. Cerpen "Cerita Ventura" terasa lebih memiliki karakter penulisan yang jelas, gaya bahasanya yang luwes, alur cerita yang menarik, karakter tokohnya pun dibuat sederhana tapi jelas.

Awalnya agak biasa atau monoton membaca cerpen "K" karya Intan Kirana. Alur ceritanya mudah ditebak dan terasa kurang klimaksnya (terkesan datar).

Bagian kedua "Gelora di Waktu Pesta" hampir ketiga cerpen memiliki ciri khas masing-masing. Cerpen "Balada Guru Agama dan Pramuria" karya Intan Kirana, "Memburu Raja Laut" karya Dodi Prananda dan "A Cat In The Alley" karya Muhammad Mahdy. Ketiga cerpennya menarik untuk dibaca sampai akhir. Di antara ketiga cerpennya terasa lebih greget ceritanya itu cerpen "A Cat In The Alley" karya Muhammad Mahdy. Membaca cerpen terakhir di bagian kedua ini terasa benar-benar masuk ke dalam ceritanya, setengah merinding juga dengan kentalnya "kekerasan" dalam ceritanya.

Bagian ketiga "Waktu Pesta Sang Imaji", terdiri dari cerpen "Kisah Lain Nawang Wulan" karya Tya Winduwati, "Ketika Tohen dan Piscate Pergi Memancing" karya Intan Kirana dan "Dongeng Duyung Pantai selatan" karya Tya Winduwati. Saya suka bagian ini karena cerpennya sama rata menariknya, sama-sama memiliki imaji atau seperti kisah dongeng.

Bagian terakhir "Waktu Pesta Ku", terdiri dari cerpen "Waktu Pesta", "Wind Chime" dan "Piknik Hujan" karya Dodi Prananda. Nah, di bagian akhir ini saya tak bisa komentar cerpen mana yang lebih menonjol karena ketiga cerpennya ditulis orang yang sama, Dodi Prananda. Tetap saya harus memilih di antara ketiganya saya suka cerpen "Waktu Pesta" di antara ketiga cerpennya. Dan karena itu juga mungkin cerpen ini yang dipilih sebagai judul dari buku antologi cerpen ini.

Dari tiap bagian saya suka catatan dari penulisnya yang tertulis di halaman pertama tiap bagian. Misalnya, bagian pertama "Waktu Pesta Bersama Cinta", kalimat menarik dari cerpennya "Seketika tubuhku berubah menjadi sebuah orkes yang agung, otakku sibuk merumuskan nada-nada dalam partitur, mulutku bersenandung dengan canggung, sementara di dadaku, ada sepasang jantung yang berdetak dengan kencang: barangkali saja aku jatuh cinta." - Intan Kirana.

Bagian kedua, "Gelora di Waktu Pesta", juga ada kalimat membuat pembaca penasaran dengan cerpennya Muhammad Mahdy yang kental dengan "kekerasan" yang hampir merinding bacanya, "Tubuhku merasa tidak nyaman. Otot-ototku terasa pegal, bukan karena dipukuli, tapi karena tidak pernah dipukuli. Master berhasil menyetel otakku menjadi pecandu kekerasan. Sekarang aku adalah pecandu kekerasan. Dan aku menyukainya."

Di bagian ketiga, "Waktu Pesta Sang Imaji" juga ada kalimat dari cerpennya Tya Winduwati, "Kalau saja hari ini giliranku mendapat mustika, pasti aku sedang duduk-duduk menikmati pemandangan awan senja dari balkon kamarku di istana langit. Bumi terlalu jorok untuk ditinggali dan aku kesal bukan main kalau ada manusia yang membuang sampah di sungai."

Bagian terakhir "Waktu Pesta Ku", kalimat dari cerpen karya Dodi Prananda "Ini cara terindah untuk merayakan hujan, berlari-lari di lapangan bola dekat rumah bersama anak laki-laki seusiaku, menari seperti kupu-kupu, dan terbang bebas ke alam lepas seperti capung dan burung."

Memang ada beberapa typo di dalamnya, terlepas dari itu saya sebagai pembaca menikmati buku antologi cerpen "Waktu Pesta: Pestanya Para Penulis!". Bagi yang suka bacaan yang agak "nyastra" saya rekomendasi baca buku ini. Terakhir, saya beri 3,5 dari 5 bintang (3,5 / 5). Ditunggu ya karya selanjutnya dari keempat penulisnya ^_____^

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar