Tampilkan postingan dengan label Review. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Review. Tampilkan semua postingan

Kamis, 06 Juni 2013

[Review] Mr. Justice Raffles: Pencuri Legendaris dari Inggris



Judul buku: Mr. Justice Raffles

Penulis: E.W. Hornung
Penerjemah: Melody Violine

Penerbit: Visimedia

Cetakan: Pertama, Maret 2013

Tebal: x + 422 halaman

ISBN: 979-065-173-2

Orang kaya ternyata miskin, Orang jujur ternyata licik, Kita semua berpotensi melakukan apa saja – A.J. Raffles 


Sinopsis 



Imajinasi dan pandangan Raffles ke depan jelas cenderung mendahului perkataannya, bahkan ide-idenya akan mengkristal saat tuturnya mengalir, menjadi cukup gamblang bagi pendengarnya. – Bunny Manders –

Siapakah yang menduga bintang kriket itu ternyata pencuri? A.J. Raffles, pemain kriket pada siang hari dan pencuri amatir pada malam hari. Kali ini pencuri tampan ini bertekad mencuri demi membantu orang lain. Raffles tidak pernah menduga permainan kecil ini akan berujung menjadi pertarungan hidup-mati antara dirinya dan rentenir paling kejam di Inggris.

Dibantu adik kelasnya yang setia, Bunny Manders, Raffles harus selalu selangkah di depan lawannya agar tidak terjerumus ke dalam berbagai perangkap yang telah disiapkan. Sanggupkah Raffles dan Bunny menaklukkan Dan Levy, si lintah darat itu?

Review

Membaca novel ini teringat penjahat legendaris sekaligus pahlawan rakyat, Ned Kelly. Dulu pernah mendapat tugas baca novelnya pada mata kuliah Sejarah Pacifik. Novel yang berjudul Mr. Justice Raffles: Pencuri Legendaris dari Inggris menceritakan seorang pemain kriket sekaligus pencuri, yang bernama Raffles. Kisah ini diceritakan dari sudut pandang sahabat Raffles yang telah ikut berpetualang bersamanya, sahabatnya itu bernama Bunny Manders.

Tentu saja alasan Raffles mencuri hanya demi membantu orang lain. Tak disangka, dalam permainan kecil yang dilakukan Raffles telah menyeretnya dalam pertarungan hidup-mati antara dirinya dan rentenir paling kejam di Inggris, Dan Levy. Rentenir yang sangat kejam, pencari mangsa bangsawan yang terlilit hutang dan melipatgandakan uang yang dipinjamkannya.

Membaca novel ini terasa seperti masuk pada akhir abad ke- 19 dengan latar belakang London. Penerjemah mampu menjembatani pembaca memahami situasi pada masa itu. Terlihat detail dalam menemukan istilah-istilah yang terasa asing di dengar saat ini, misalnya mesin tik pada masa itu berbentuk seperti setengah topi atau Raffles menjuluki musuhnya sebagai Mr. Shylock.  Juga aksen bicara khas tokoh Dan Levy tanpa huruf “h” pun tak luput dari perhatian penerjemah. Meskipun demikian masih ada beberapa kesalahan teknis di dalamnya, saya menemukan typo pada halaman 125 (Carlsband, seharusnya Carlsbad), halaman 135 (mencengkamku, seharusnya mencengkramku), halaman 262 (sudahau siapkan, seharusnya sudah kau siapkan).

Semakin penasaran siapa sebenarnya yang membunuh si rentenir Dan Levy? Membaca novel ini selalu ingin membacanya sampai akhir cerita, membongkar teka-teki yang terjadi. Terakhir saya beri 4 dari 5 bintang. Novel ini recommended buat yang menyukai cerita berlatar sejarah, mystery atau kasus kriminal.  

Jumat, 31 Mei 2013

[Review] Drunken Monster (Kisah-Kisah Tidak Teladan)

Judul buku: Drunken Monster
Penulis: Pidi Baiq
Penerbit: DAR! Mizan
Cetakan: I, Januari 2008
              II, April 2008
Tebal: 204 halaman
ISBN: 978-979-752-832-4

Saya agak termenung lihat cover depannya yang warna warni dan judul bukunya "Drunken Monster". Agak penasaran juga, sebenarnya buku ini bercerita tentang apa ya? Memang saya agak telat abis baca buku ini. Setelah baca karya Pidi Baiq yang lain yang berjudul "at-Twitter: Google Menjawab Semuanya Pidi Baiq Menjawab Semaunya". Sebenarnya sudah mengenal nama penulis dari teman-teman saya satu jurusan yang berinteraksi dengan beliau di facebook. Saya belum pernah mengenal penulis secara langsung dari dulu. Saya hanya lihat teman-teman saja yang terlihat akrab dengan penulis di facebook.

Akhirnya, saya bisa membaca beberapa buku Pidi Baiq. Dari tulisannya yang nyeleneh dan agak absurd ini tapi di dalamnya tersimpan makna kehidupan yang berharga. Menghargai sesama, berbagi pada sesama yang membutuhkan dengan seninya tersendiri tanpa adanya kesenjangan atau jarak di antaranya. Cenderung gokil berbagi dengan sesama. 

Buku ini terdiri dari beberapa kumpulan cerpen (bahkan penulisnya masih bingung cerpen atau catatan harian). Ada 18 kisah di dalamnya yang menceritakan pengalaman penulis sehari-hari; Air Lembang Panas; Drunken Monster; Jalan Ke Mana-Mana; Jalan-Jalan Minggu; Mengejar Kereta; Institut Tahi Burung; Mangga Monyet; Hari Senin; Pulang Dari Jakarta; Oh, Kerja; Martinus, O; Manggo Mimo; Noor Rosak; Ronda; Ayah Sakit; Dayat; Angkot Kiri; Ojek Nyegik. Bacanya dijamin nggak akan sakit mata atau sakit perut, hehehe.. 

Motor, saya bikin berhenti di pangkalan becak. Saya ambil HP. Itu karena saya mau menelepon Timur di rumah. Rupanya dia belum tidur. Juga bebe. Oh, ini malam Minggu. Saya suruh mereka menunggu di depan rumah, menyambut ayah karena ayah sebentar insya Allah akan sampai.

"Mang Ikun!" Itu saya bereteriak kepada salah satu tukang becak.

"Ya!"

"Sini bentar."

"Ada apa, Bang Pidi?"

"Bisa bawa motor, euy?"

"Bisa. Kenapa, Bang?"

"Mang Ikun bawa motor ini ke rumah saya, ya!"

"Bang Pidi? Ke mana?"

"Saya juga pulang, tapi pake becak Mang Ikun. Saya yang bawa becak."

"Hah...hehehe...kumaha?" Kumaha itu, artinya bagaimana.

"Serius, Mang Ikun. Nanti saya bayar. Ya, Mang ya? Ini jaket dan helmnya sekalian pake." Saya turun dari motor. Mang Ikun ambil jaket, pake jaket, pake helm, dan ambil alih motor saya. Saya bergegas pergi untuk mengambil becak Mang Ikun.

"Kamana Ikuuun!" teriak kawan-kawannya sesama tukang becak.

"Wah hebat si Ikun!" itu teriakan tukang becak lainnya.

"Si Bang Pidi lagi bingung, nih!" Mang Ikun teriak kepada teman-temannya sambil ketawa.

"Mang, yang mana becak Mang Ikun?" tanya saya kepada kerumunan tukang becak.

"Iya itu, Bang."

"Ini?"

"Iya, Bang."

"Itu, Si Mang Ikun katanya pengen bawa motor saya ke rumah. Saya disuruhnya pake becak. Dasar!" kata saya kepada kerumunan tukang becak yang sedang main remi. (hal. 121).

Becak melaju, diringi gemerincing bunyi rantai saling beradu. Suara klakson yang sengaja saya bunyikan. Oh. Becak, kau berat juga kiranya. Pun, saya mendadak belok sendiri. Apalagi itu, kondisi jalan yang buruk. Penuh lubang dan banyak serakan batu kerikil. Jadi tahu sudah, ternyata tidak gampang bawa becak. Sumpah. Susah kalau harus dijelasin. Harus kamu rasain sendiri. (hal. 122).

Itu salah satu dari cerita di buku "Drunken Monster" ini. Ada banyak hal nyeleneh lainnya di dalam buku ini. Misalnya cerita Manggo Nimo, bercerita mengajak makan Mang Ikun, Mang Oding dan Mang Gofar (para tukang becak) di cafe. Pulangnya diantar ke rumah masing-masing sambil membawa barang pilihan saat mampir di pusat perbelanjaan.  

Dalam cerita Ojek Nyegik, menipu tukang ojek dengan minta diantar ke Abah Salahin, orang yang suka bantu mau nyegik. Keliling-keliling naik ojek menanyakan Abah Salahin ke tiap orang yang dilewati. Pura-pura menelepon bilang bahwa Abah Salahin ternyata baru saja meninggal. Memberi uang ke tukang ojek dan kembali ke dalam mobil yang diparkir tidak terlihat dari pangkalan ojek. Nggak kebayang itu tukang ojeknya bingung diajak muter-muter cari yang namanya Abah Salahin, hehehe...

Masih banyak lagi cerita gokil lainnya yang hampir membuat perut mules karena terlalu banyak ketawa. Misalnya saja, membaca percakapan antara penulis dengan Dayat. Itu percakapan sehari-hari yang sepintas nggak penting tapi ternyata lucu juga bacanya.

Saya sepakat dengan pak Bambang Sugiharto, Guru Besar Filsafat di Unpar dan ITB, mengatakan bahwa ketika Thomas Hobbes bilang bahwa pada dasarnya manusia itu serigala bagi manusia yang lainnya, ketika filsuf Sartre menganggap manusia adalah neraka bagi sesamanya dan Freud melihat dalam diri manusia terdapat thanatos alias kecenderungan destruktif, buku ini seperti menujukkan kebalikannya - manusia itu baik saja adanya. Namun barangkali, itu cuma berlaku untuk manusia Sunda atau Indonesia? Mungkin juga tidak, sih. 

Saya tidak akan banyak komentar soal struktur kalimat dalam buku ini. Memang seperti itu adanya. Kalau tidak begitu ya bukan Pidi Baiq, seorang seniman yang nyentrik. Kalimat seperti itu tidak mengurangi pesan yang hendak disampaikan pada pembaca dan maknanya tetap tersampaikan. Ini buku mengenai kemanusiaan yang unik, belajar berbagi dengan sesama tanpa ada jarak antara pemberi dan penerima, dibuat sangat santai dan akrab.

Terakhir saya beri 4 dari 5 bintang. Meski terlambat baca buku ini, saya merasa beruntung bisa mengambil pesan dan makna di dalamnya. Indahnya saling berbagi.

Kamis, 23 Mei 2013

[Review] A Very Yuppy Wedding

Judul buku: A Very Yuppy Wedding
Penulis: Ika Natassa
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: Pertama, Oktober 2007
Tebal: 288 Halaman
ISBN: 978-979-22-3181-6




The life of a business is 24/7, dan bagi Andrea, bankir muda yang tengah meniti karier di salah satu bank terbesar di Indonesia, rasanya ada 8 hari dalam seminggu. Power lunch, designer suit, golf di Bintan, dinner dengan nasabah, kunjungan ke proyek debitur, sampai tumpukan analisis feasibility calon nasabah, she eats them all. Namun di usianya yang menginjak 29 tahun, Andrea mungkin harus mengubah prioritasnya, karena sekarang ada Adjie, the most eligible bachelor in banking yang akan segera menikahinya. So she should be smiling, right?

Not really. Tidak di saat ia harus memilih antara jabatan baru dan pernikahan, menghadapi wedding planner yang demanding, calon mertua yang perfeksionis, target bank yang mencekik, dan ancaman denda 500 juta jika ia melanggar kontrak kerjanya. Dan tidak ada Manolo Blahnik atau Zara atau Braun Buffel yang bisa memaksanya tersenyum di saat ia mulai mempertanyakan apakah semua pengorbanan karier yang telah ia berikan untuk Adjie tidak sia-sia,       ketika ia menghadapi kenyataan bahwa tunangan sempurnanya mungkin berselingkuh dengan rekan kerjanya sendiri.

 A Very Yuppy Wedding menceritakan tentang Andrea seorang banker menjelang pernikahannya. Di usianya yang menginjak 29 tahun, Andrea harus mengubah prioritasnya karena ada Adjie yang akan segera menikahinya. Konflik percintaan sepasang kekasih yang sama-sama seorang banker, yang terikat kontrak kerja dan ketentuan bahwa tidak boleh menjalin hubungan sesama karyawan di bank. Apabila mereka berdua melanggar ketentuan tersebut harus membayar denda 500 juta karena melanggar kontrak kerjanya. Andrea dan Adjie sepakat menyembunyikan hubungan mereka berdua di kantor, terutama atasan mereka Bu Karen. Banyak kejadian lucu menghindari bu Karen, "Mau belanja juga, Bu?" Aku tersenyum gugup menghampiri bu Karen, berusaha mengalahkan rasa mampus-setan-sialan-kenapa-si-bos-ini-harus-ada-di-sini-di-saat-Adjie-melamar-ku-sumpah-nggak-lucu-banget!

"Iya nih, lagi nyari kado buat ulang tahun Bapak," Bu Karen membalas senyumku. "Berdua aja?"


"Oh, sama Adjie maksudnya? Nggak, Bu, tadi kami datang sendiri-sendiri..."

"Kebetulan aja ketemu di sini, Bu," Adjie ikut menimpali, mencoba tersenyum sewajar mungkin. Tapi air mukanya langsung berubah ketika ia melihat siapa yang menghampiri kami.

Aku mengikuti arah pandang Adjie, dan perutku langsung mulas saat melihat sosok laki-laki itu. Nggak lucu, sumpah nggak lucu banget! (hal. 21).

Di kantor hanya Firman dan Tania, sahabat mereka berdua yang mengetahui Andrea dan Adjie sepasang kekasih. Ketika ada Ajeng yang baru bergabung di kantor dan juga menjadi konflik di antara mereka berdua. "Oh, gitu. Eh, kalau Mas Adjie anak UI juga? Soalnya gue liat elo berdua akrab banget."

"Lho, elo belum tau?" kata Tania. "Adjie dan Andrea kan... aduh!"

Aku barusan menendang tulang kering Tania yang hampir saja mengumumkan hubunganku dengan Adjie kepada anak baru yang belum bisa kupercaya. Nggak lucu kan, kalau tiba-tiba besok si Ajeng cerita sama bu Karen atau pak Utomo?

"Adjie dan aku nggak satu kampus, Jeng. Dia di Trisakti. Tapi gue sama dia tuh dulu barengan masuk Perdana-nya, tiga tahun yang lalu. Jadi kami udah temenan banget gitu deh," aku menjelaskan, sambil melotot sepersekian detik pada Tania. Untung saja Ajeng sedang sibuk memotong-motong unagi-nya sehingga tidak menyaksikan pelototan mautku barusan.

"Wah, kalau gue jadi elo ya, Dre, udah gue pacarin tuh Mas Adjie. Gila, cakep banget gitu." (hal. 65).

Konflik Andrea dan Adjie, dilema antara harus menyembunyikan status hubungan mereka berdua pada Ajeng dan menahan rasa cemburu berlebihan pada Ajeng. Terlebih Ajeng itu gadis Jawa yang cantik, tipikal calon istri ideal untuk Adjie karena menurut penelusuran Andrea bahwa mantan pacar Adjie di masa lalu semuanya gadis Jawa yang cantik dan sempurna. Sedangkan Andrea, gadis Indo campuran, Belanda-Batak.

Masih banyak hal yang harus dihadapi Andrea, bertemu dengan calon mertua yang perfeksionis dan betapa repotnya mempersiapkan pernikahan dengan adat Jawa yang lengkap. Menghadapi Dina, yang selalu menelpon dan sms dengan bawelnya mengingatkan semua perlengkapan pernikahan. Ketika dihadapkan pada sebuah pilihan memilih pernikahannya dengan Adjie atau mempertahankan kariernya. Menjelang pernikahannya Andrea dan Adjie masing-masing dipertemukan dengan mantan pacar di masa lalu.

Alur ceritanya menarik untuk terus membaca sampai akhir dengan gaya bahasa yang ringan dan mengalir. Membacanya terasa akrab seperti mendengarkan curhatan seorang sahabat. Kekurangannya itu, tokoh dari novel ini terlalu dibuat sempurna, Andrea, gadis pintar, cantik, mempunyai karier cemerlang dan mempunyai kekasih, yang bernama Adjie, yang ganteng, pintar, rajin shalat, karier yang sukses dan berasal dari keluarga menengah ke atas. Rasanya terlalu sempurna ya. Ada beberapa typo di beberapa halaman yang saya temukan. Selebihnya novel ini enak dibaca dengan akhir cerita yang mengharukan.

Saya suka membaca puisi Pablo Neruda yang Andrea dan Adjie pilih di halaman pertama undangan pernikahan. "Ah, love is a voyage with water and a star, In drowning air and squalls of precipitate bran: Love is a war of lights and the lightening flashes Two bodies blasted in a single burst of honey." - Pablo Neruda.

Terakhir saya kasih 4 dari 5 bintang untuk novel A Very Yuppy Wedding karya Ika Natassa ini. Membaca novel ini menghibur dan tidak terlalu banyak mengerutkan dahi karena alur ceritanya yang ringan dan menarik.

Tentang Penulis

Ika Natassa, seorang business banker, lahir di Medan tahun 1977 dan memulai kariernya dengan menjalani apprenticeship di department of Primary Industry di Darwin dan ACTEW Corporations Limited di Canberra, sebelum akhirnya berprofesi sebagai commercial bangking relationship manager di salah satu bank terbesar di Indonesia hingga saat ini. Sejak dulu selalu ingin mencoba hal baru, mulai dari melukis untuk sebuah restoran bisbol saat ia masih bersekolah di Stanton High school di Amerika serikat, bushwalking mengelilingi Ayers Rock, mengambil sampel darah sapi hidup di Darwin, sampai mengajar anak-anak di pedalaman Kalimantan. Setelah beberapa kali menulis tentang leadership dan banking services untuk banknya, finalis Cosmopolitan Fun Fearless Female 2004 ini juga pernah menulis artikel tentang finance dan golf di majalah Lifestyle Soap, meraih Top 6 Most Popular Blog in Indonesia versi Blog Awards 2006, dan kini menerbitkan novel pertamanya.


Jumat, 03 Mei 2013

[Review] Cinta Kamu, Aku: Ini Bukan Drama Radio!


Judul buku: Cinta Kamu, Aku: Ini Bukan Drama Radio!
Penulis: Irfan Ihsan
Penerbit: Nourabooks
Cetakan: I, Februari 2013
Tebal: 320 halaman
Harga: Rp 54.000
ISBN: 978-602-7816-27-5



“… kalo ditanya apa saya masih sayang dia, saya akan jawab ‘nggak’… dan kalo sekarang saya ditanya, kapan terakhir saya melakukan kebohongan terbesar dalam hidup, saya akan jawab… baru saja …”

Fabian Suhendra atau biasa dipanggil Aan, seorang penyiar radio FlashFM, dengan air time pas-pasan, tunggakan uang kos, dan penyakit jomblo akut. Saat Aan sedang siaran tiba-tiba muncul Risha, penyanyi papan atas yang diantar mbak Silvy. Aan tampak bingung karena melihat tidak ada nama Risha dalam order siaran yang berisi jadwal iklan, daftar insert, daftar lagu dan berbagai hal yang akan mengudara pada setiap jam, termasuk jadwal wawancara tamu jika ada, dan selalu menjadi panduan si penyiar dan operator yang bertugas pada jam tersebut.

Risha dan mbak Silvy panik dan menghubungi Lego, manajer risha yang mungkin salah kasih jadwal. Seperti mendapat kesempatan untuk mewawancarai Risha akhirnya Aan bilang kalau salah lihat dan ternyata memang ada jadwal wawancara hari ini.

Jam dinding bergerak cepat dari pukul 7.50 ke pukul 9.58. Risha dan Aan sudah semakin akrab. Ketika kelompok iklan terakhir sedang mengudara, Aan yang biasanya keluar studio untuk nonton TV di ruang kreatif atau sekadar ngobrol ngalor-ngidul dengan Rohmad atau Robby, kali ini terlihat betah di ruang siaran, sambil melihat telapak tangan Risha, seolah-olah sedang meramal jalan hidup Risha. Risha pun sesekali terlihat tertawa lepas, sementara Aan terlihat serius seperti seorang peramal yang kekuatannya melebihi peramal professional yang sering masuk TV.

Masa kecil Risha (19 tahun lalu)

“…kaki kecil berlari ke sana kemari sambil tertawa riang kedua tangannya diayun kiri kanan hari ini bahagia terbias di wajahnya…”

Suara merdu Vina Panduwinata terdengar keluar dari mini compo yang terletak di atas meja kecil samping tempat tidur. Di atas tempat tidur tersebut, seorang anak perempuan yang hari ini tepat berusia 6 tahun, sedang duduk dikelilingi boneka-boneka kesayangannya, bernyanyi pelan mengikuti lirik lagu tersebut.
Suara pertengkaran tersebut terdengar di antara lirik lagu “Kumpul Bocah” yang mengalun.

“…selamat hari ulang tahun, Manis”

“Dasar lo, ya… Buaya Busuk!!”

“…semoga kamu panjang umur.”

“Tidurin aja semua pelacur… mending masih kuat!”

“…cepat undang semua teman.”

“Eh, Ma… kalo ngomong ati-ati! Emang gue nggak tahu lo ngapain aja kalo lagi show keluar kota…hah1? Udah kayak pecun!!”

Si anak perempuan tadi membesarkan volume suara di compo-nya sehingga suara di antara lirik lagu sudah tidak terdengar lagi, sambil memeluk salah satu bonekanya.

Hari ini adalah ulang tahun Risha. Risha berharap kehadiran Yudha tapi ternyata memang Yudha tidak bisa datang menemuinya. Risha merasa bersalah karena menjadi cewek simpenannya Yudha. Risha merasa Yudha adalah jodohnya, kenapa juga dia mau kawin sama mbak Ratih hanya karena alasan untuk bikin seneng ibunya. Sekarang ibunya meninggal dia bilang mau cerai sama mbak Ratih. Tapi mana? Cinta memang tidak berpihak padanya, pikir Risha.

Dalam perjalanan Jakarta-Bandung (21 tahun lalu)

Aan kecil (7 tahun) sedang berada dalam mobil berasama Papa, Mama dan adik perempuannya yang masih berusia tiga tahun dalam perjalanan ke rumah Aki dan Ninik di Bandung. Sambil menyetir, Papa memasukan sebuah kaset ke tape player di mobil dan terdengar lagu “Why Do You Love Me” yang dibawakan oleh Koes Plus berkumandang di dalam mobil.

Keesokan harinya, Aan sedang bermain lego di meja ruang keluarga rumah Aki dan Ninik. Baju kemejanya dimasukkan ke dalam celana panjang yang dipakainya. Walaupun hari sudah sore, rambutnya yang lurus dan belah pinggir masih terlihat rapi.

Tiba-tiba mang Usep muncul di pintu. Mukanya terlihat sangat pucat. Badannya gemetar. Aki dan Ninik kaget melihat mang Usep seperti itu. Aki lari menghampiri mang Usep. Di belakang mang Usep, muncul pak RT dan dua orang polisi. Sesaat kemudian, terdengar suara Aki yang sangat keras mengucapkan “INNALILLAHI WA INNA ILAIHI ROJIUUUN!!!”        diikuti tangisan Aki yang kemudian jatuh terduduk. Ninik yang mengetahui apa yang terjadi pun langsung memeluk Aan dan mendekapnya keras-keras.

Aan, seorang penyiar radio dan Risha, penyanyi papan atas yang tinggal di dunia jauh berbeda dari Aan, terkenal dengan suara merdu, kecantikan dan segudang prestasinya. Namun, satu event pengubah takdir membuat cinta Aan dan Risha bertemu di satu frekuensi. Terciptanya kisah Risha dan Aan, 4 detik untuk selamanya…

Tling

Sebuah pesan masuk di BBM Aan.

"Hai sayang.. kamu di mana? Kamu jadi nemuin aku, kan?"

“Wooooohooooo …!!!”

Aan menggila.Girang. Menari. Lari keliling studio. Dan, menjadi tontonan baru teman-teman Flash radio. Akhirnyaaaa … wanita yang bikin dia deg-degan dan nyengir setiap hari, menyebut dirinya “sayang”. Lirik lagu “Menghujam Jantungku” dari Tompi terdengar kencang di mobil Aan ketika mobilnya parkir di samping salah satu studio sebuah TV swasta tempat Risha shooting untuk acara tahun baru di TV tersebut.

Lucu juga baca pas bagian ini karena ternyata yang mengirim BBM itu ke Aan bukan Risha tapi Lego, manajernya Risha. Lucu bacanya, hihi… :p *guling-guling*

Aan mendapat kejutan saat siaran pagi “Sarapan”. Mia bilang Balak Satu yang mau diwawancara pagi ini nggak jadi datang. Mendadak penggantinya bukan artis tapi politisi.

Sakit perut Aan muncul lagi.

“Thur, mampus gue. Masa baru siaran pertama langsung diuji coba sama politisi. Gue ngomongin apa, ya? Harusnya kan Mia brief gue dulu. Lo tahu siapa yang datang, Thur?” Aan yang terlihat makin gugup, sementara Phatur juga geleng-geleng kepala kepala.

Dan ternyata… “HAAAHH??? Hahahahahaa…” Aan terlompat dari kursinya dan hanya bisa tertawa dengan keras. Tamu itu ternyata Risha.

Novel “Cinta Kamu, Aku: Ini Bukan Drama Radio!” merupakan novel kedua yang saya baca setelah “Abdel & Mongol: It’s Real Man!”, persamaannya adalah sama membahas dunia siaran radio dan gaya bahasa dalam ceritanya pun khas masyarakat kota Jakarta yang familiar.  Membaca novel ini campur aduk, ada sedih dengan masa lalu, gokil dengan gaya bahasa yang ‘ngepop’ khas Jakarta sehari-hari, dan terharu dengan kisah Risha dan Aan.

Novel ini memang ‘ngepop’ terlihat sekali dari gaya bahasanya dan alur ceritanya ringan yang memang mengangkat kisah di balik layar dunia radio. Mungkin agak kurang klimaksnya kali ya karena gaya bahasanya dan alur ceritanya yang ‘ngepop’ jadi kurang menyentuh klimaks ceritanya.

Pas endingnya saya suka, terharu baca endingnya. Lalu bagaimana akhir cerita segitiga Aan, Risha dan Yudha? Akhirnya Risha memilih siapa ya? Selebihnya bisa baca novel “Cinta Kamu, Aku: Ini Bukan Drama Radio!”. Seperti yang diungkapkan penulisnya Ini Bukan Drama Radio! Jadi, penasaran kan bagaimana ceritanya? Karena cerita ini bukan sekadar drama radio.

Saya kasih rating 3 dari 5 bintang 3/5 untuk novel “Cinta Kamu, Aku: Ini Bukan Drama Radio!”. Bagi yang suka mendengarkan radio, saya recommended baca novel ini.

 Tentang Penulis


Irfan Ihsan (@irfanihsan), kecintaan pada dunia Radio dan kegemaran bercerita seorang Irfan Ihsan digabung dalam sebuah karya fiksi yang berjudul Cinta Kamu, Aku … : Ini Bukan Drama Radio!. Novel tersebut merupakan karya pertamanya. Kegemarannya menulis sudah muncul sejak Irfan masih duduk di bangku SD. Saat itu ia menulis sebuah kisah detektif menggunakan mesin ketik milik Ayahnya, yang juga seorang penulis.

Irfan “resmi” jadi orang radio ketika diterima sebagai Wadyabala Prambors tahun 1993. Namanya mulai dikenal ketika membawakan acara The Afternoon Show bersama Angga, yang kemudian diangkat ke layar televisi dan menjadi program pertama di Indonesia yang mengudara secara langsung dan bersamaan di radio dan TV, bernama “PRAMBORS WOW MANIA”, dari tahun 1996-1998. Setelah itu Irfan juga sempat membawakan acara Morning Show dan siaran malam ‘Pojokan Mendut’ di Radio Prambors, sebelum akhirnya pada tahun 2003 membawakan acara pagi ‘Snooze Button’ di Radio Indika. Selain di dunia Radio, Irfan juga sempat membawakan beberapa acara TV mulai dari variety show, game show, hingga siaran langsung sepak bola. Pengalaman lainnya termasuk meliput event besar seperti Woodstock Music Festival di Rome, New York tahun 1999 dan acara penghormatan terakhir bagi legenda musik Michael Jackson di Los Angeles, California pada tahun 2009.

Pada tahun 2005, Irfan bergabung dengan VOA sebagai International Broadcaster, dan menetap di Washington DC bersama istrinya, Vivit Kavi dan dua putri mereka, Ayla dan Kanza. 

Rabu, 01 Mei 2013

[Review] Paris: Aline

Judul buku: Paris: Aline
Penulis: Prisca Primasari
Penerbit: Gagas Media
Cetakan: Pertama, 2012
Tebal: x + 214 halaman
ISBN: 979-780-577-8




Paris punya banyak sekali tempat menarik: Sacre Coeur, kafe-kafe di St. Germain, kanal de l’Ourcq, Quartier Latin yang kutinggali di 5eme arrondissement, Eiffel yang klise itu kalau mau gampangnya. Mengapa Place de la Bastile ini yang dia jadikan tempat pertemuan? Pukul dua belas malam pula. Orang itu sudah tak waras atau apa? Bagaimana kalau tiba-tiba ada kepala transparan yang muncul… atau bayangan tempat tidur penuh paku, atau suara-suara jeritan meminta tolong –

Kupandang hiasan dinding – atau lebih tepatnya mantan hiasan dinding – porselen di tanganku. Keretakannya sama sekali tak bisa ditutupi, malah semakin jelas dengan lem kekuningan yang membuat fragmen-fragmennya menempel satu sama lain. Menyatukan porselen tersebut bagaikan bermain bongkar pasang terumit, menghabikan waktu luangku yang bisa dibilang langka. Namun, apa boleh buat, aku sendiri yang cari-cari masalah.

Berawal dari si… oke, lebih baik tidak kusebut namanya. Panggil saja dia Ubur-Ubur. Jadi, Ubur-Ubur adalah koki di bistro Indonesia tempatku bekerja paruh waktu – sama sepertiku, dia juga berasal dari Indonesia. Aku sudah lama menyukainya (hal terbodoh dalam seumur hidup), berharap suatu saat dia akan memperhatikanku, tetapi kemarin lusa baru aku sadar bahwa laki-laki yang sangat self-centered, sangat pintar (baik dalam hal otak maupun kuliner), sangat oke (paling tidak sebelum aku menyebutnya ‘ubur-ubur’) tidak mungkinlah melirik gadis seperti aku. Baru aku sadar, memangnya siapa aku berani-berani mengharapkannya? Si Ubur-Ubur lebih memilih rekan sesame kokinya, L’impressionnante Mademoiselle Lucie, yang bila dibandingkan denganku ia bagaikan sebongkah zamrud – sedangkan aku kerikil. Aku pendek, Lucie jangkung; aku berkulit kecoklatan, Lucie seputih losion; aku tidak mirip artis siapa pun, Lucie mirip Marion Cotillard. Mengapa aku terlambat mengetahui bahwa si Ubur-Ubur seleranya tinggi?
Aeolus Sena.

Yang pertama kali terpikir olehku adalah salah satu karakter manga favoritku: Aiolos de Sagittaire. Nama mereka mirip. Kemudian, aku menggeleng, sadar bahwa itu tidak penting.

Aku bersandar, menghela napas. Menatap porselen tersebut. Sebaliknya, kucari tahu saja tentang Aeolus Sena ini. Mungkin dia pembuatnya?

Tapi, buat apa? Kalau dia membuang benda ini, berarti dia tidak butuh , kan? Lagian, Aeolus Sena jelas nama laki-laki. Laki-laki suka warna ungu?

Warna yang sangat bagus. Tulisannya juga. Dan, kata petugas kebersihan tadi, harga porselen ini tidak murah.

Akhirnya, aku mengirim pemberitahuan ke alamat e-mail Aeolus Sena yang entah masih aktif atau tidak. Aku bahkan nyaris yakin takkan mendapat jawaban, tetapi sungguh mengejutkan karena tak sampai sejam kemudian, emailku dibalas.

Allo. Makasih banyak e-mailnya. Dari Indonesia juga? Oke kalau gitu. Kita ketemu nanti di Place de Bastille pukul 12 malam.

Aku ingat cara kak Ezra memeriksa porselen itu, dengan gerakan pelan dan terkadang ragu-ragu, lalu mengambil kesimpulan.

“Yang bikin perempuan.”

“Eh, memangnya porselen itu bukan bikinan kamu, ya?” tanyaku sekonyong-konyong.

“Hm?”

“Di bawahnya ada tulisan ‘Aeolus Sena’. Saya kira yang bikin kamu. Tapi, kata Kak Ezra, yang bikin perempuan. Bener?”

Senyum Sena memudar sedikit. Dia lalu memandang ke luar jendela, ekspresinya sulit ditebak.

“Sebenarnya, tulisan di bawah itu bukan Cuma ‘Aeolus Sena’, “ katanya. Tapi ‘A Aeolus Sena’. Cuma, mungkin karena pecah, huruf A-nya jadi terkelupas.”

Ini tentang sebuah pertemuan takdir Aline dan seorang laki-laki bernama Sena. Terlepas dari hal-hal menarik yang dia temukan di diri orang itu, Sena menyimpan misteri, seperti mengapa aline diajaknya bertemu di Bastille yang jelas-jelas adalah bekas penjara, pukul 12 malam pula?

Dan mengapa pula laki-laki itu sangat hobi mendatangi tempat-tempat seperti pemakaman Pere Lachaise yang konon berhantu?
_____________________

Novel yang berjudul “Paris: Aline” karya Prisca Primasari ini adalah novel pertama di tahun 2013 yang membuat saya tidak menunda membacanya berhari-hari. Hanya kurang lebih setengah hari saya membaca novel ini sampai selesai. Awalnya membaca novel ini tertarik dengan judulnya “Paris: Aline”. Yap, saya begitu tertarik dengan Paris. Kebetulan si tokohnya dalam novel ini bernama Aline, hey itu nama yang mirip dengan saya. Juga tokoh Aline ini pun mengambil jurusan sejarah di Paris. Semua serba kebetulan dengan saya rupanya. Itu menambah penasaran saya membaca novel ini.

Dalam setengah hari itu saya membaca novel ini di sore hari kemudian dilanjutkan malam harinya sampai selesai baca novel ini. Semakin penasaran setelah membaca halaman 71, penasaran dengan siapa itu Aeolus Sena yang misterius juga dengan porselen yang ditemukan Aline dan ingin dikembalikan pada pemiliknya Aeolus Sena.

Suka alur ceritanya yang bikin penasaran untuk terus membaca sampai akhir ceritanya dan menemukan misteri dalam diri Sena. Agak sedikit klise juga sih ada ya keluarga seperti pasangan Poussin yang tega mengurung Sena di rumah mereka seperti dalam penjara? Pasangan Poussin ini mengerikan sekali hampir seperti psikopat, menganggap Sena adalah anaknya, almarhum Nino yang sudah lima tahun meninggal dunia. 

Itu pun karena kesalahan mereka karena selalu menyiksanya, sampai memukul dengan beton? Ngeri banget, emang ada ya kenyataannya seperti itu? Mengharukan juga saat Aline memperjuangkan cintanya, Sena, sampai dia rela disekap di rumah pasangan Poussin ini berhari-hari dengan tumpukan ketikan tanpa makanan yang memadai. Sena membawa Aline keluar dari rumah pasangan Poussin dan bersumpah akan kembali, bersumpah demi Nino.

Paling mengharukan itu ketika Aline mengetahui tentang perasaan Kak Ezra padanya selama ini melalui sebuah DVD berisi film pendek dengan Kak Ezra sebagai pemerannya. Film itu berdurasi sekitar 15 menit. Cerita yang membuat berkaca-kaca membacanya. Greget juga kenapa si tokoh Aline ini tidak pilih Kak Ezra aja ya? Loh?! (ditoyor penulisnya #eh).

“Maaf…,” bisikku.

“Jangan,” ujarnya. “Saya sudah cukup senang bisa kenal Aline. Seperti yang sudah saya bilang, saya jadi mengetahui warna-warni lain. Jangan minta maaf”

Sedih baca percakapan antara Aline dengan Kak Ezra. Mata berkaca-kaca gini bacanya.
Karakter tokoh Aline di novel ini lucu, penuh warna-warni seperti yang Kak Ezra katakan. Meski kata si Ubur-Ubur itu katanya Aline itu nggak penting, kekanakan, tampang nggak banget. Juga seperti yang dikatakan Sena kalau Aline itu pikiran sempit, nggak percaya diri tapi sok kuat, melankolis tidak pada tempatnya, suka berjibaku pada hal-hal tidak penting. Terlepas dari itu semua, saya suka karakter tokoh Aline ini. Tanpa kehadiran si tokoh Aline dalam novel ini rasanya garing.

Suka alur ceritanya yang bener-bener bikin penasaran dan terus baca sampai akhir. Juga endingnya pun menarik. Sebenarnya keseluruhan ceritanya disajikan dalam sebuah diari yang ditulis oleh Aline untuk dibaca oleh sahabatnya, Sevigne. Hmm, jadi saya kasih bintang 5 dari 5 bintang untuk novel ini. Dari beberapa novel yang saya baca di tahun ini, novel “Paris: Aline” inilah yang mampu menarik saya untuk terus membacanya sampai akhir dan hampir kurang dari sehari saya menyelesaikan novel ini.

Ditambah ada kartu pos bergambar menara Eiffel yang terselip di dalamnya menambah kesan cantik pada novel “Paris: Aline” ini. Membaca novel ini seperti sedang berkunjung beberapa hari di Paris. Diajak berkeliling oleh si tokoh Aline dan sederet konflik dalam ceritanya.




Tentang Penulis




Prisca Primasari, penulis Éclair, Beautiful Mistake, dan Kastil Es dan Air Mancur Yang Berdansa, lahir di Surabaya, 22 Februari 1986.

Di waktu luang, lulusan prodi Sastra Inggris Universitas Airlangga ini sangat suka mendengarkan musik klasik, membaca novel dan manga, menonton film dan anime, mendengarkan K-Pop, makan dan menulis.