Judul
buku: Cinta Kamu, Aku: Ini Bukan Drama Radio!
Penulis:
Irfan Ihsan
Penerbit:
Nourabooks
Cetakan:
I, Februari 2013
Tebal:
320 halaman
Harga:
Rp 54.000
ISBN:
978-602-7816-27-5
“…
kalo ditanya apa saya masih sayang dia, saya akan jawab ‘nggak’… dan kalo
sekarang saya ditanya, kapan terakhir saya melakukan kebohongan terbesar dalam
hidup, saya akan jawab… baru saja …”
Fabian
Suhendra atau biasa dipanggil Aan, seorang penyiar radio FlashFM, dengan air
time pas-pasan, tunggakan uang kos, dan penyakit jomblo akut. Saat Aan sedang
siaran tiba-tiba muncul Risha, penyanyi papan atas yang diantar mbak Silvy. Aan
tampak bingung karena melihat tidak ada nama Risha dalam order siaran yang
berisi jadwal iklan, daftar insert, daftar lagu dan berbagai hal yang akan
mengudara pada setiap jam, termasuk jadwal wawancara tamu jika ada, dan selalu
menjadi panduan si penyiar dan operator yang bertugas pada jam tersebut.
Risha
dan mbak Silvy panik dan menghubungi Lego, manajer risha yang mungkin salah
kasih jadwal. Seperti mendapat kesempatan untuk mewawancarai Risha akhirnya Aan
bilang kalau salah lihat dan ternyata memang ada jadwal wawancara hari ini.
Jam
dinding bergerak cepat dari pukul 7.50 ke pukul 9.58. Risha dan Aan sudah
semakin akrab. Ketika kelompok iklan terakhir sedang mengudara, Aan yang
biasanya keluar studio untuk nonton TV di ruang kreatif atau sekadar ngobrol
ngalor-ngidul dengan Rohmad atau Robby, kali ini terlihat betah di ruang
siaran, sambil melihat telapak tangan Risha, seolah-olah sedang meramal jalan
hidup Risha. Risha pun sesekali terlihat tertawa lepas, sementara Aan terlihat
serius seperti seorang peramal yang kekuatannya melebihi peramal professional
yang sering masuk TV.
Masa kecil Risha (19 tahun lalu)
“…kaki
kecil berlari ke sana kemari sambil tertawa riang kedua tangannya diayun kiri
kanan hari ini bahagia terbias di wajahnya…”
Suara
merdu Vina Panduwinata terdengar keluar dari mini compo yang terletak di atas
meja kecil samping tempat tidur. Di atas tempat tidur tersebut, seorang anak
perempuan yang hari ini tepat berusia 6 tahun, sedang duduk dikelilingi
boneka-boneka kesayangannya, bernyanyi pelan mengikuti lirik lagu tersebut.
Suara
pertengkaran tersebut terdengar di antara lirik lagu “Kumpul Bocah” yang
mengalun.
“…selamat
hari ulang tahun, Manis”
“Dasar
lo, ya… Buaya Busuk!!”
“…semoga
kamu panjang umur.”
“Tidurin
aja semua pelacur… mending masih kuat!”
“…cepat
undang semua teman.”
“Eh,
Ma… kalo ngomong ati-ati! Emang gue nggak tahu lo ngapain aja kalo lagi show
keluar kota…hah1? Udah kayak pecun!!”
Si
anak perempuan tadi membesarkan volume suara di compo-nya sehingga suara di
antara lirik lagu sudah tidak terdengar lagi, sambil memeluk salah satu
bonekanya.
Hari
ini adalah ulang tahun Risha. Risha berharap kehadiran Yudha tapi ternyata
memang Yudha tidak bisa datang menemuinya. Risha merasa bersalah karena menjadi
cewek simpenannya Yudha. Risha merasa Yudha adalah jodohnya, kenapa juga dia
mau kawin sama mbak Ratih hanya karena alasan untuk bikin seneng ibunya.
Sekarang ibunya meninggal dia bilang mau cerai sama mbak Ratih. Tapi mana?
Cinta memang tidak berpihak padanya, pikir Risha.
Dalam perjalanan Jakarta-Bandung (21
tahun lalu)
Aan
kecil (7 tahun) sedang berada dalam mobil berasama Papa, Mama dan adik
perempuannya yang masih berusia tiga tahun dalam perjalanan ke rumah Aki dan
Ninik di Bandung. Sambil menyetir, Papa memasukan sebuah kaset ke tape player
di mobil dan terdengar lagu “Why Do You Love Me” yang dibawakan oleh Koes Plus
berkumandang di dalam mobil.
Keesokan
harinya, Aan sedang bermain lego di meja ruang keluarga rumah Aki dan Ninik.
Baju kemejanya dimasukkan ke dalam celana panjang yang dipakainya. Walaupun
hari sudah sore, rambutnya yang lurus dan belah pinggir masih terlihat rapi.
Tiba-tiba
mang Usep muncul di pintu. Mukanya terlihat sangat pucat. Badannya gemetar. Aki
dan Ninik kaget melihat mang Usep seperti itu. Aki lari menghampiri mang Usep.
Di belakang mang Usep, muncul pak RT dan dua orang polisi. Sesaat kemudian,
terdengar suara Aki yang sangat keras mengucapkan “INNALILLAHI WA INNA ILAIHI
ROJIUUUN!!!” diikuti tangisan Aki
yang kemudian jatuh terduduk. Ninik yang mengetahui apa yang terjadi pun
langsung memeluk Aan dan mendekapnya keras-keras.
Aan,
seorang penyiar radio dan Risha, penyanyi papan atas yang tinggal di dunia jauh
berbeda dari Aan, terkenal dengan suara merdu, kecantikan dan segudang
prestasinya. Namun, satu event pengubah takdir membuat cinta Aan dan Risha
bertemu di satu frekuensi. Terciptanya kisah Risha dan Aan, 4 detik untuk
selamanya…
Tling
Sebuah
pesan masuk di BBM Aan.
"Hai
sayang.. kamu di mana? Kamu jadi nemuin aku, kan?"
“Wooooohooooo
…!!!”
Aan
menggila.Girang. Menari. Lari keliling studio. Dan, menjadi tontonan baru
teman-teman Flash radio. Akhirnyaaaa … wanita yang bikin dia deg-degan dan
nyengir setiap hari, menyebut dirinya “sayang”. Lirik lagu “Menghujam
Jantungku” dari Tompi terdengar kencang di mobil Aan ketika mobilnya parkir di
samping salah satu studio sebuah TV swasta tempat Risha shooting untuk acara
tahun baru di TV tersebut.
Lucu
juga baca pas bagian ini karena ternyata yang mengirim BBM itu ke Aan bukan
Risha tapi Lego, manajernya Risha. Lucu bacanya, hihi… :p *guling-guling*
Aan
mendapat kejutan saat siaran pagi “Sarapan”. Mia bilang Balak Satu yang mau
diwawancara pagi ini nggak jadi datang. Mendadak penggantinya bukan artis tapi
politisi.
Sakit
perut Aan muncul lagi.
“Thur,
mampus gue. Masa baru siaran pertama langsung diuji coba sama politisi. Gue
ngomongin apa, ya? Harusnya kan Mia brief gue dulu. Lo tahu siapa yang datang,
Thur?” Aan yang terlihat makin gugup, sementara Phatur juga geleng-geleng
kepala kepala.
Dan
ternyata… “HAAAHH??? Hahahahahaa…” Aan terlompat dari kursinya dan hanya bisa
tertawa dengan keras. Tamu itu ternyata Risha.
Novel
“Cinta Kamu, Aku: Ini Bukan Drama Radio!” merupakan novel kedua yang saya baca
setelah “Abdel & Mongol: It’s Real Man!”, persamaannya adalah sama membahas
dunia siaran radio dan gaya bahasa dalam ceritanya pun khas masyarakat kota
Jakarta yang familiar. Membaca novel ini
campur aduk, ada sedih dengan masa lalu, gokil dengan gaya bahasa yang ‘ngepop’
khas Jakarta sehari-hari, dan terharu dengan kisah Risha dan Aan.
Novel
ini memang ‘ngepop’ terlihat sekali dari gaya bahasanya dan alur ceritanya
ringan yang memang mengangkat kisah di balik layar dunia radio. Mungkin agak
kurang klimaksnya kali ya karena gaya bahasanya dan alur ceritanya yang
‘ngepop’ jadi kurang menyentuh klimaks ceritanya.
Pas
endingnya saya suka, terharu baca endingnya. Lalu bagaimana akhir cerita
segitiga Aan, Risha dan Yudha? Akhirnya Risha memilih siapa ya? Selebihnya bisa
baca novel “Cinta Kamu, Aku: Ini Bukan Drama Radio!”. Seperti yang diungkapkan
penulisnya Ini Bukan Drama Radio! Jadi, penasaran kan bagaimana ceritanya?
Karena cerita ini bukan sekadar drama radio.
Saya
kasih rating 3 dari 5 bintang 3/5 untuk novel “Cinta Kamu, Aku: Ini Bukan Drama
Radio!”. Bagi yang suka mendengarkan radio, saya recommended baca novel ini.
Tentang Penulis
Irfan
Ihsan (@irfanihsan), kecintaan pada dunia Radio dan kegemaran bercerita seorang
Irfan Ihsan digabung dalam sebuah karya fiksi yang berjudul Cinta Kamu, Aku … :
Ini Bukan Drama Radio!. Novel tersebut merupakan karya pertamanya. Kegemarannya
menulis sudah muncul sejak Irfan masih duduk di bangku SD. Saat itu ia menulis
sebuah kisah detektif menggunakan mesin ketik milik Ayahnya, yang juga seorang
penulis.
Irfan
“resmi” jadi orang radio ketika diterima sebagai Wadyabala Prambors tahun 1993.
Namanya mulai dikenal ketika membawakan acara The Afternoon Show bersama Angga,
yang kemudian diangkat ke layar televisi dan menjadi program pertama di
Indonesia yang mengudara secara langsung dan bersamaan di radio dan TV, bernama
“PRAMBORS WOW MANIA”, dari tahun 1996-1998. Setelah itu Irfan juga sempat
membawakan acara Morning Show dan
siaran malam ‘Pojokan Mendut’ di Radio Prambors, sebelum akhirnya pada tahun
2003 membawakan acara pagi ‘Snooze Button’ di Radio Indika. Selain di dunia
Radio, Irfan juga sempat membawakan beberapa acara TV mulai dari variety show,
game show, hingga siaran langsung sepak bola. Pengalaman lainnya termasuk
meliput event besar seperti Woodstock
Music Festival di Rome, New York tahun 1999 dan acara penghormatan terakhir
bagi legenda musik Michael Jackson di Los Angeles, California pada tahun 2009.
Pada
tahun 2005, Irfan bergabung dengan VOA sebagai International Broadcaster, dan
menetap di Washington DC bersama istrinya, Vivit Kavi dan dua putri mereka,
Ayla dan Kanza.