Tampilkan postingan dengan label Novel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Novel. Tampilkan semua postingan

Kamis, 13 Juni 2013

[Review] Tadarus Cinta Buya Pujangga

Judul buku: Tadarus Cinta Buya Pujangga
Penulis: Akmal Nasery Basral
Penerbit: Salamadani
Cetakan: I, Maret 2013
Tebal: xii + 380 halaman
ISBN: 978-602-7817-19-7

"Soekarno tampak berkaca-kaca. Dia menjabat pria di depannya dengan kehangatan seorang kakak terhadap adiknya. Saya akan selalu berdoa kepada Allah agar Dinda kelak menjadi suluh penerang bagi bangsa ini, baik lewat karya-karya Dinda sebagai pujangga, maupun sebagai ulama."

Itulah harapan Putra Sang Fajar bagi seseorang yang masa kecilnya hidup bak seorang "pemberontak". Orang memanggilnya Malik. Ia lahir pada suatu Ahad, kala senja merona di langit Minangkabau. Kelincahannya selalu beradu riang dengan riak Danau Maninjau, nyalinya membuntal seolah hendak bergulat dengan Bukit Sibarosok. Ia lahir dan dibesarkan di lingkungan para ulama.

Namun, perceraian ayah-ibunya membuat dia berpaling dari keluarga, dunia luar pun menjadi tempat peraduannya baginya. Pendidikan formalnya terhenti, bahkan ia tak pernah sempat menamatkan Sekolah Desa. Beranjak dewasa, setelah berhaji dan menuntut ilmu di Tanah Suci, Malik memilih jalannya untuk berkiprah di negeri sendiri, menjadi pujangga. Sementara itu, bekal yang ia peroleh selama perantauan mengukuhkan kecakapannya sebagai seorang ulama.

Inilah kisah pergulatan Malik dengan lingkungannya, yang bertubi-tubi menempa watak dan lakunya, hingga kelak namanya mengharum sebagai seorang ulama-pujangga - yang lebih dikenal dengan panggilan: Buya Hamka.

Review:

Membaca novel ini seperti menelusuri sejarah negeri ini, menceritakan pada masa pemerintahan Hindia Belanda, zaman pergerakan hingga muncul nama Indonesia. Novel ini merupakan kisah hidup seorang ulama sekaligus pujangga, Buya Hamka. Banyak pesan moral di dalamnya, misalnya dalam prolog "Dua Bersilang Takdir" begitu besarnya hati Buya Hamka mau menjadi imam dalam shalat jenazah di depan jenazah yang di masa lalunya pernah memenjarakannya selama 30 purnama, akibat komentar-komentar tajam yang dilontarkannya terhadap PKI, partai yang saat itu sedang berbulan madu dengan Sang Proklamator. Satu pelajaran yang bisa dipetik: dendam tak boleh dilestarikan seberat zahra pun. Betapa pun beratnya. Betapa pun sulitnya (hal. 13).

Cerita masa lalu Malik yang penuh cobaan karena ayah ibunya bercerai. Malik mulai mengenal banyak buku dari mendengar bahwa Angku Zainuddin Labai El-Junusy membuka sebuah bibliotek, tempat penyewaan buku. Tak ada buku dalam bahasa Arab di sana, yang ada hanyalah buku-buku kisah Tionghoa-Melayu, kisah Tiga Panglima Perang, Graaf de Monte Cristo, kisah-kisah pertempuran pasukan Rusia melawan Jepang, surat kabar Bintang Hindia yang memuat karangan Dr. A. Rivai dari Eropa, dan banyak buku lainnya yang belum pernah sekalipun dilihat Malik (hal. 112).

Hingga ayahnya, Haji Rasul, melontarkan komentar, "Engkau ini jika besar nanti akan menjadi ulama atau tukang cerita, Malik?" Ingin sekali Malik berani menjawab, "Dua-duanya, Ayahanda!" Tetapi jawaban itu tak pernah keluar dari mulutnya (hal. 114).

Perjalanan hidup Malik membawanya menjadi anggota Sarekat Islam. Sang paman, Ja'far Amrullah, mengajak Malik untuk belajar di Sareat Islam yang bermarkas di Pakualaman, yakni Sarekat Islam Putih yang dipimpin oleh H.O.S Tjokroaminoto, sosok yang menjadi cercaan anak-anak muda revolusioner seperti Zai di Padangpanjang (hal. 156).

Saya mengenal Buya Hamka dari karyanya yang berjudul Di Bawah Lindungan Ka'bah dan sempat nonton filmnya juga beberapa tahun yang lalu bersama saudara sepupu di Tasik pada Hari Raya Idhul Fitri. Dan sekarang saya mengenalnya lebih dekat membaca novelnya yang menceritakan kisah hidupnya, hingga lahir dan dikenal dengan nama pena H.A.M.K.A yang nama lengkapnya Haji Abdul Malik Karim Abdullah. Juga baru tahu karya roman pertamanya Si Sabariyah dari membaca novel ini.

Ada kutipan yang perlu dicatat, "Malik: lakukan segalanya dengan niat mengharapkan keridhaan Allah saja. Ikhlas. Jangan harapkan pujian manusia." (hal. 171).

Ada beberapa kesalahan teknis (typo) di dalamnya, ".... itu lebih Berdasarkan keinginan ..." (hal. 129) huruf kapital terletak tidak di awal kalimat, ".... dari yang dIsyaratkan perkumpulan ..." (hal. 156), "Dalam perjalan pulang ..." seharusnya perjalanan (hal. 167). Itu mungkin beberapa kesalahan teknis yang saya temukan. Juga dalam novel ini kurang diceritakan bagaimana kehidupan ibunya setelah menikah dengan saudagar Deli. Banyak menceritakan kisah hidup ayahnya, Haji Rasul. Rasanya kurang lengkap tidak menceritakan keduanya setelah bercerai.

Terakhir saya beri 4 dari 5 bintang untuk novel ini, penuh dengan informasi sejarah negeri ini. Rekomendasi buat para penyuka buku-buku sejarah dan roman Islami. Banyak petuah positif bertebaran di dalamnya. Selamat membaca.

Kamis, 23 Mei 2013

[Review] A Very Yuppy Wedding

Judul buku: A Very Yuppy Wedding
Penulis: Ika Natassa
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: Pertama, Oktober 2007
Tebal: 288 Halaman
ISBN: 978-979-22-3181-6




The life of a business is 24/7, dan bagi Andrea, bankir muda yang tengah meniti karier di salah satu bank terbesar di Indonesia, rasanya ada 8 hari dalam seminggu. Power lunch, designer suit, golf di Bintan, dinner dengan nasabah, kunjungan ke proyek debitur, sampai tumpukan analisis feasibility calon nasabah, she eats them all. Namun di usianya yang menginjak 29 tahun, Andrea mungkin harus mengubah prioritasnya, karena sekarang ada Adjie, the most eligible bachelor in banking yang akan segera menikahinya. So she should be smiling, right?

Not really. Tidak di saat ia harus memilih antara jabatan baru dan pernikahan, menghadapi wedding planner yang demanding, calon mertua yang perfeksionis, target bank yang mencekik, dan ancaman denda 500 juta jika ia melanggar kontrak kerjanya. Dan tidak ada Manolo Blahnik atau Zara atau Braun Buffel yang bisa memaksanya tersenyum di saat ia mulai mempertanyakan apakah semua pengorbanan karier yang telah ia berikan untuk Adjie tidak sia-sia,       ketika ia menghadapi kenyataan bahwa tunangan sempurnanya mungkin berselingkuh dengan rekan kerjanya sendiri.

 A Very Yuppy Wedding menceritakan tentang Andrea seorang banker menjelang pernikahannya. Di usianya yang menginjak 29 tahun, Andrea harus mengubah prioritasnya karena ada Adjie yang akan segera menikahinya. Konflik percintaan sepasang kekasih yang sama-sama seorang banker, yang terikat kontrak kerja dan ketentuan bahwa tidak boleh menjalin hubungan sesama karyawan di bank. Apabila mereka berdua melanggar ketentuan tersebut harus membayar denda 500 juta karena melanggar kontrak kerjanya. Andrea dan Adjie sepakat menyembunyikan hubungan mereka berdua di kantor, terutama atasan mereka Bu Karen. Banyak kejadian lucu menghindari bu Karen, "Mau belanja juga, Bu?" Aku tersenyum gugup menghampiri bu Karen, berusaha mengalahkan rasa mampus-setan-sialan-kenapa-si-bos-ini-harus-ada-di-sini-di-saat-Adjie-melamar-ku-sumpah-nggak-lucu-banget!

"Iya nih, lagi nyari kado buat ulang tahun Bapak," Bu Karen membalas senyumku. "Berdua aja?"


"Oh, sama Adjie maksudnya? Nggak, Bu, tadi kami datang sendiri-sendiri..."

"Kebetulan aja ketemu di sini, Bu," Adjie ikut menimpali, mencoba tersenyum sewajar mungkin. Tapi air mukanya langsung berubah ketika ia melihat siapa yang menghampiri kami.

Aku mengikuti arah pandang Adjie, dan perutku langsung mulas saat melihat sosok laki-laki itu. Nggak lucu, sumpah nggak lucu banget! (hal. 21).

Di kantor hanya Firman dan Tania, sahabat mereka berdua yang mengetahui Andrea dan Adjie sepasang kekasih. Ketika ada Ajeng yang baru bergabung di kantor dan juga menjadi konflik di antara mereka berdua. "Oh, gitu. Eh, kalau Mas Adjie anak UI juga? Soalnya gue liat elo berdua akrab banget."

"Lho, elo belum tau?" kata Tania. "Adjie dan Andrea kan... aduh!"

Aku barusan menendang tulang kering Tania yang hampir saja mengumumkan hubunganku dengan Adjie kepada anak baru yang belum bisa kupercaya. Nggak lucu kan, kalau tiba-tiba besok si Ajeng cerita sama bu Karen atau pak Utomo?

"Adjie dan aku nggak satu kampus, Jeng. Dia di Trisakti. Tapi gue sama dia tuh dulu barengan masuk Perdana-nya, tiga tahun yang lalu. Jadi kami udah temenan banget gitu deh," aku menjelaskan, sambil melotot sepersekian detik pada Tania. Untung saja Ajeng sedang sibuk memotong-motong unagi-nya sehingga tidak menyaksikan pelototan mautku barusan.

"Wah, kalau gue jadi elo ya, Dre, udah gue pacarin tuh Mas Adjie. Gila, cakep banget gitu." (hal. 65).

Konflik Andrea dan Adjie, dilema antara harus menyembunyikan status hubungan mereka berdua pada Ajeng dan menahan rasa cemburu berlebihan pada Ajeng. Terlebih Ajeng itu gadis Jawa yang cantik, tipikal calon istri ideal untuk Adjie karena menurut penelusuran Andrea bahwa mantan pacar Adjie di masa lalu semuanya gadis Jawa yang cantik dan sempurna. Sedangkan Andrea, gadis Indo campuran, Belanda-Batak.

Masih banyak hal yang harus dihadapi Andrea, bertemu dengan calon mertua yang perfeksionis dan betapa repotnya mempersiapkan pernikahan dengan adat Jawa yang lengkap. Menghadapi Dina, yang selalu menelpon dan sms dengan bawelnya mengingatkan semua perlengkapan pernikahan. Ketika dihadapkan pada sebuah pilihan memilih pernikahannya dengan Adjie atau mempertahankan kariernya. Menjelang pernikahannya Andrea dan Adjie masing-masing dipertemukan dengan mantan pacar di masa lalu.

Alur ceritanya menarik untuk terus membaca sampai akhir dengan gaya bahasa yang ringan dan mengalir. Membacanya terasa akrab seperti mendengarkan curhatan seorang sahabat. Kekurangannya itu, tokoh dari novel ini terlalu dibuat sempurna, Andrea, gadis pintar, cantik, mempunyai karier cemerlang dan mempunyai kekasih, yang bernama Adjie, yang ganteng, pintar, rajin shalat, karier yang sukses dan berasal dari keluarga menengah ke atas. Rasanya terlalu sempurna ya. Ada beberapa typo di beberapa halaman yang saya temukan. Selebihnya novel ini enak dibaca dengan akhir cerita yang mengharukan.

Saya suka membaca puisi Pablo Neruda yang Andrea dan Adjie pilih di halaman pertama undangan pernikahan. "Ah, love is a voyage with water and a star, In drowning air and squalls of precipitate bran: Love is a war of lights and the lightening flashes Two bodies blasted in a single burst of honey." - Pablo Neruda.

Terakhir saya kasih 4 dari 5 bintang untuk novel A Very Yuppy Wedding karya Ika Natassa ini. Membaca novel ini menghibur dan tidak terlalu banyak mengerutkan dahi karena alur ceritanya yang ringan dan menarik.

Tentang Penulis

Ika Natassa, seorang business banker, lahir di Medan tahun 1977 dan memulai kariernya dengan menjalani apprenticeship di department of Primary Industry di Darwin dan ACTEW Corporations Limited di Canberra, sebelum akhirnya berprofesi sebagai commercial bangking relationship manager di salah satu bank terbesar di Indonesia hingga saat ini. Sejak dulu selalu ingin mencoba hal baru, mulai dari melukis untuk sebuah restoran bisbol saat ia masih bersekolah di Stanton High school di Amerika serikat, bushwalking mengelilingi Ayers Rock, mengambil sampel darah sapi hidup di Darwin, sampai mengajar anak-anak di pedalaman Kalimantan. Setelah beberapa kali menulis tentang leadership dan banking services untuk banknya, finalis Cosmopolitan Fun Fearless Female 2004 ini juga pernah menulis artikel tentang finance dan golf di majalah Lifestyle Soap, meraih Top 6 Most Popular Blog in Indonesia versi Blog Awards 2006, dan kini menerbitkan novel pertamanya.


Jumat, 03 Mei 2013

[Review] Cinta Kamu, Aku: Ini Bukan Drama Radio!


Judul buku: Cinta Kamu, Aku: Ini Bukan Drama Radio!
Penulis: Irfan Ihsan
Penerbit: Nourabooks
Cetakan: I, Februari 2013
Tebal: 320 halaman
Harga: Rp 54.000
ISBN: 978-602-7816-27-5



“… kalo ditanya apa saya masih sayang dia, saya akan jawab ‘nggak’… dan kalo sekarang saya ditanya, kapan terakhir saya melakukan kebohongan terbesar dalam hidup, saya akan jawab… baru saja …”

Fabian Suhendra atau biasa dipanggil Aan, seorang penyiar radio FlashFM, dengan air time pas-pasan, tunggakan uang kos, dan penyakit jomblo akut. Saat Aan sedang siaran tiba-tiba muncul Risha, penyanyi papan atas yang diantar mbak Silvy. Aan tampak bingung karena melihat tidak ada nama Risha dalam order siaran yang berisi jadwal iklan, daftar insert, daftar lagu dan berbagai hal yang akan mengudara pada setiap jam, termasuk jadwal wawancara tamu jika ada, dan selalu menjadi panduan si penyiar dan operator yang bertugas pada jam tersebut.

Risha dan mbak Silvy panik dan menghubungi Lego, manajer risha yang mungkin salah kasih jadwal. Seperti mendapat kesempatan untuk mewawancarai Risha akhirnya Aan bilang kalau salah lihat dan ternyata memang ada jadwal wawancara hari ini.

Jam dinding bergerak cepat dari pukul 7.50 ke pukul 9.58. Risha dan Aan sudah semakin akrab. Ketika kelompok iklan terakhir sedang mengudara, Aan yang biasanya keluar studio untuk nonton TV di ruang kreatif atau sekadar ngobrol ngalor-ngidul dengan Rohmad atau Robby, kali ini terlihat betah di ruang siaran, sambil melihat telapak tangan Risha, seolah-olah sedang meramal jalan hidup Risha. Risha pun sesekali terlihat tertawa lepas, sementara Aan terlihat serius seperti seorang peramal yang kekuatannya melebihi peramal professional yang sering masuk TV.

Masa kecil Risha (19 tahun lalu)

“…kaki kecil berlari ke sana kemari sambil tertawa riang kedua tangannya diayun kiri kanan hari ini bahagia terbias di wajahnya…”

Suara merdu Vina Panduwinata terdengar keluar dari mini compo yang terletak di atas meja kecil samping tempat tidur. Di atas tempat tidur tersebut, seorang anak perempuan yang hari ini tepat berusia 6 tahun, sedang duduk dikelilingi boneka-boneka kesayangannya, bernyanyi pelan mengikuti lirik lagu tersebut.
Suara pertengkaran tersebut terdengar di antara lirik lagu “Kumpul Bocah” yang mengalun.

“…selamat hari ulang tahun, Manis”

“Dasar lo, ya… Buaya Busuk!!”

“…semoga kamu panjang umur.”

“Tidurin aja semua pelacur… mending masih kuat!”

“…cepat undang semua teman.”

“Eh, Ma… kalo ngomong ati-ati! Emang gue nggak tahu lo ngapain aja kalo lagi show keluar kota…hah1? Udah kayak pecun!!”

Si anak perempuan tadi membesarkan volume suara di compo-nya sehingga suara di antara lirik lagu sudah tidak terdengar lagi, sambil memeluk salah satu bonekanya.

Hari ini adalah ulang tahun Risha. Risha berharap kehadiran Yudha tapi ternyata memang Yudha tidak bisa datang menemuinya. Risha merasa bersalah karena menjadi cewek simpenannya Yudha. Risha merasa Yudha adalah jodohnya, kenapa juga dia mau kawin sama mbak Ratih hanya karena alasan untuk bikin seneng ibunya. Sekarang ibunya meninggal dia bilang mau cerai sama mbak Ratih. Tapi mana? Cinta memang tidak berpihak padanya, pikir Risha.

Dalam perjalanan Jakarta-Bandung (21 tahun lalu)

Aan kecil (7 tahun) sedang berada dalam mobil berasama Papa, Mama dan adik perempuannya yang masih berusia tiga tahun dalam perjalanan ke rumah Aki dan Ninik di Bandung. Sambil menyetir, Papa memasukan sebuah kaset ke tape player di mobil dan terdengar lagu “Why Do You Love Me” yang dibawakan oleh Koes Plus berkumandang di dalam mobil.

Keesokan harinya, Aan sedang bermain lego di meja ruang keluarga rumah Aki dan Ninik. Baju kemejanya dimasukkan ke dalam celana panjang yang dipakainya. Walaupun hari sudah sore, rambutnya yang lurus dan belah pinggir masih terlihat rapi.

Tiba-tiba mang Usep muncul di pintu. Mukanya terlihat sangat pucat. Badannya gemetar. Aki dan Ninik kaget melihat mang Usep seperti itu. Aki lari menghampiri mang Usep. Di belakang mang Usep, muncul pak RT dan dua orang polisi. Sesaat kemudian, terdengar suara Aki yang sangat keras mengucapkan “INNALILLAHI WA INNA ILAIHI ROJIUUUN!!!”        diikuti tangisan Aki yang kemudian jatuh terduduk. Ninik yang mengetahui apa yang terjadi pun langsung memeluk Aan dan mendekapnya keras-keras.

Aan, seorang penyiar radio dan Risha, penyanyi papan atas yang tinggal di dunia jauh berbeda dari Aan, terkenal dengan suara merdu, kecantikan dan segudang prestasinya. Namun, satu event pengubah takdir membuat cinta Aan dan Risha bertemu di satu frekuensi. Terciptanya kisah Risha dan Aan, 4 detik untuk selamanya…

Tling

Sebuah pesan masuk di BBM Aan.

"Hai sayang.. kamu di mana? Kamu jadi nemuin aku, kan?"

“Wooooohooooo …!!!”

Aan menggila.Girang. Menari. Lari keliling studio. Dan, menjadi tontonan baru teman-teman Flash radio. Akhirnyaaaa … wanita yang bikin dia deg-degan dan nyengir setiap hari, menyebut dirinya “sayang”. Lirik lagu “Menghujam Jantungku” dari Tompi terdengar kencang di mobil Aan ketika mobilnya parkir di samping salah satu studio sebuah TV swasta tempat Risha shooting untuk acara tahun baru di TV tersebut.

Lucu juga baca pas bagian ini karena ternyata yang mengirim BBM itu ke Aan bukan Risha tapi Lego, manajernya Risha. Lucu bacanya, hihi… :p *guling-guling*

Aan mendapat kejutan saat siaran pagi “Sarapan”. Mia bilang Balak Satu yang mau diwawancara pagi ini nggak jadi datang. Mendadak penggantinya bukan artis tapi politisi.

Sakit perut Aan muncul lagi.

“Thur, mampus gue. Masa baru siaran pertama langsung diuji coba sama politisi. Gue ngomongin apa, ya? Harusnya kan Mia brief gue dulu. Lo tahu siapa yang datang, Thur?” Aan yang terlihat makin gugup, sementara Phatur juga geleng-geleng kepala kepala.

Dan ternyata… “HAAAHH??? Hahahahahaa…” Aan terlompat dari kursinya dan hanya bisa tertawa dengan keras. Tamu itu ternyata Risha.

Novel “Cinta Kamu, Aku: Ini Bukan Drama Radio!” merupakan novel kedua yang saya baca setelah “Abdel & Mongol: It’s Real Man!”, persamaannya adalah sama membahas dunia siaran radio dan gaya bahasa dalam ceritanya pun khas masyarakat kota Jakarta yang familiar.  Membaca novel ini campur aduk, ada sedih dengan masa lalu, gokil dengan gaya bahasa yang ‘ngepop’ khas Jakarta sehari-hari, dan terharu dengan kisah Risha dan Aan.

Novel ini memang ‘ngepop’ terlihat sekali dari gaya bahasanya dan alur ceritanya ringan yang memang mengangkat kisah di balik layar dunia radio. Mungkin agak kurang klimaksnya kali ya karena gaya bahasanya dan alur ceritanya yang ‘ngepop’ jadi kurang menyentuh klimaks ceritanya.

Pas endingnya saya suka, terharu baca endingnya. Lalu bagaimana akhir cerita segitiga Aan, Risha dan Yudha? Akhirnya Risha memilih siapa ya? Selebihnya bisa baca novel “Cinta Kamu, Aku: Ini Bukan Drama Radio!”. Seperti yang diungkapkan penulisnya Ini Bukan Drama Radio! Jadi, penasaran kan bagaimana ceritanya? Karena cerita ini bukan sekadar drama radio.

Saya kasih rating 3 dari 5 bintang 3/5 untuk novel “Cinta Kamu, Aku: Ini Bukan Drama Radio!”. Bagi yang suka mendengarkan radio, saya recommended baca novel ini.

 Tentang Penulis


Irfan Ihsan (@irfanihsan), kecintaan pada dunia Radio dan kegemaran bercerita seorang Irfan Ihsan digabung dalam sebuah karya fiksi yang berjudul Cinta Kamu, Aku … : Ini Bukan Drama Radio!. Novel tersebut merupakan karya pertamanya. Kegemarannya menulis sudah muncul sejak Irfan masih duduk di bangku SD. Saat itu ia menulis sebuah kisah detektif menggunakan mesin ketik milik Ayahnya, yang juga seorang penulis.

Irfan “resmi” jadi orang radio ketika diterima sebagai Wadyabala Prambors tahun 1993. Namanya mulai dikenal ketika membawakan acara The Afternoon Show bersama Angga, yang kemudian diangkat ke layar televisi dan menjadi program pertama di Indonesia yang mengudara secara langsung dan bersamaan di radio dan TV, bernama “PRAMBORS WOW MANIA”, dari tahun 1996-1998. Setelah itu Irfan juga sempat membawakan acara Morning Show dan siaran malam ‘Pojokan Mendut’ di Radio Prambors, sebelum akhirnya pada tahun 2003 membawakan acara pagi ‘Snooze Button’ di Radio Indika. Selain di dunia Radio, Irfan juga sempat membawakan beberapa acara TV mulai dari variety show, game show, hingga siaran langsung sepak bola. Pengalaman lainnya termasuk meliput event besar seperti Woodstock Music Festival di Rome, New York tahun 1999 dan acara penghormatan terakhir bagi legenda musik Michael Jackson di Los Angeles, California pada tahun 2009.

Pada tahun 2005, Irfan bergabung dengan VOA sebagai International Broadcaster, dan menetap di Washington DC bersama istrinya, Vivit Kavi dan dua putri mereka, Ayla dan Kanza. 

Rabu, 24 April 2013

[Review] 9 Summers 10 Autumns



Judul buku: 9 Summers 10 Autumns
Penulis: Iwan Setyawan
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: Pertama, Februari 2011
Tebal: 224 halaman
ISBN: 978-979-22-6766-2




Meraih Mimpi dari Kota Apel ke The Big Apple
Yeayy! Besok mulai tanggal 25 April 2013 serentak film 9 Summers 10 Autumns tayang di bioskop di berbagai kota di Indonesia. Senangnya, akhirnya film yang ditunggu-tunggu akhirnya tayang juga. Sebelum menonton yuk baca novelnya atau mungkin baca ulang novelnya. Ada cerita sedikit mengenai novelnya. Sekitar bulan Februari kemarin, ada acara di Klub Buku Bandung yang membahas soal novel 9 Summers 10 Autumns ini yang berlokasi di Potluck Kitchen. Singkat cerita, aku mendaftarkan seorang sahabatku datang ke acara tersebut. Pas acara justru aku yang berhalangan hadir di acara tersebut. Jadi, sahabatku yang datang ke acara itu sendirian. Baik hatinya sahabatku itu malah memberikan oleh-oleh buatku novel 9 Summers 10 Autumns itu. Katanya aku menang. Alhamdulillah dapet tanda tangan penulisnya juga dengan kalimat penyemangat: “Berlayar. Terus Berlayar” dari penulisnya.
            
Inilah hasil bacaanku tentang novel 9 Summers 10 Autumns. Meski sudah terbit dua tahun yang lalu (2011), tak ada salahnya kan membaca sekarang ini. Bagiku tak ada kata terlambat untuk membaca buku. Dan kebetulan menyambut filmnya akan tayang serentak mulai besok jadi tak ada salahnya membaca novelnya dulu.
            
Bapakku, sopir angkot yang tak bisa mengingat tanggal lahirnya. Dia hanya mengecap pendidikan sampai kelas 2 SMP. Sementara ibuku, tidak bisa menyelesaikan sekolahnya di SD. Dia cermin kesederhanaan yang sempurna. Empat saudara perempuanku adalah empat pilar kokoh. Di tengah kesulitan, kami hanya bisa bermain dengan buku pelajaran dan mencari tambahan uang dengan berjualan pada saat bulan puasa, mengecat boneka kayu di wirausaha kecil dekat rumah, atau membantu tetangga berdagang di pasar sayur.
            
Ketika bapak menginginkan aku menggantikannya mencari nafkah sebagai sopir angkot yang kemudian aku malah diterima di IPB. Bapak memarahi ibu habis-habian. Dibuktikan semangat keras dan akhirnya lulus dengan nilai terbaik di IPB. Setelah lulus kuliah bekerja di Jakarta dan bisa membantu mengirimkan uang untuk keluargaku di desa. Berkat kerja keras dan ketekunanku bekerja akhirnya aku direkomendasikan salah seorang teman bekerja di New York.
            
Terbanglah aku ke New York. New York City bukan impian masa kecilku, bukan keinginan gilaku. New York City bukan keinginan yang muncul dari mimpi dan dari rumah mungilku. New York City adalah buah kerja keras, keprihatinan dan kejujuran. New York City adalah buah “kehangatan” rumah kecil kami. Dan, dari jalanan di New York City ini, aku berani menelusuri masa kecilku kembali.
            
Setelah melewati 9 Summers 10 Autumns aku merindukan desa kecilku, rumahku dan keluargaku. Dua bulan setelah aku mengirimkan farewell e-mail, aku meninggalkan New York. Sebuah surat aku temukan di salah satu buku yang akan kubawa pulang. Sebuah surat yang belum sempat aku berikan kepada bocah kecil itu. Ia ada di hatiku, pikirku. Biar kusimpan secarik kertas ini untukku, untuknya.
            
Aku tak bisa memilih masa kecilku.
            
Masa kecilku mungkin tak seindah dan selepas mereka, tapi kehangatan di bawah rumah kecilku telah menyelamatkanku. Jalan hidupku mungkin akan berbeda, I would have been so lost, tanpa kesederhanaan Ibu, tanpa perjuangan keras Bapak, tanpa cinta yang hangat dari saudara-saudaraku. Memori masa kecil membuat aku bijak dalam mengenal diriku sekarang.
             
Kalimat paling ajaib di hampir bagian akhir novel ini. “Melihat air mata Ibu jatuh saat itu, I told my self, I will not let this happen again. I want to make her a happy mother, a very happy mother. I want to do something for my family. I love them so much. Dari sinilah aku mulai melihat hidup ini tak hijau lagi.”
            
Itulah hasil bacaanku mengenai novel 9 Summers 10 Autumns ini. Membacanya akan terasa mata berkaca-kaca. Tapi, aku nggak setuju kalau novel ini hanya menjual kesedihan. Bukan seperti itu, justru banyak nilai-nilai inspiratif sebagai penyemangat hidup. Melihat hidup lebih optimis lagi. Ada makna yang lebih dari hanya sekadar menjual kesedihan. Mungkin bagi sebagian orang ini bukan karya sastra melainkan autobiografi penulisnya, memang mungkin seperti itu. Tak terlalu penting mengenai hal itu, yang terutama pesan yang hendak disampaikan penulisnya tersampaikan dengan baik pada pembacanya. Dan itu rasanya lebih dari cukup.
             
Bagi yang tak sabar menonton filmnya, tenang ya karena besok sudah mulai filmnya tayang di bioskop. Selamat menonton adopsi dari novelnya yang tak kalah bagusnya. Semoga filmnya juga mengulang kesuksesan novelnya.

Minggu, 21 April 2013

[Review] Pulang

Judul buku: Pulang
Penulis: Leila S. Chudori
Penerbit: KPG
Cetakan: Pertama, Desember 2012
Tebal: viii + 464 halaman
ISBN 13: 978-979-91-0515-8
Harga: Rp 70.000




Hari ini mumpung hari libur yang cuacanya cerah dari beberapa hari kemarin yang selalu hujan dan banjir. Hari libur kali ini mengisi hari dengan menulis resensi buku “Pulang” karya Leila S. Chudori. Mungkin tulisan ini sebagai ucapan terima kasih karena telah diberi novel “Pulang” secara gratisan dalam kuis di twitter bulan November. Terima kasih sudah memberi kesempatan buat saya memiliki dan membaca karya yang bagus dari penulis lawas. Satu kata “mantaaapp” pantas untuk novel ini.

Baiklah, tanpa harus lama-lama lagi mari mulai menyimak isi cerita novel “Pulang” tersebut. Dijamin membacanya menumbuhkan rasa kecintaan terhadap negeri sendiri karena belajar memahami sejarah bangsa ini. Meski novel ini menceritakan kisah atau peristiwa di tahun 1965 namun penulisnya tidak berniat untuk menceritakan siapa yang benar dan siapa yang salah dibalik peristiwa 30 September 1965 itu. Novel ini hanya sebuah drama keluarga, persahabatan, cinta dan pengkhianatan berlatar belakang tiga peristiwa sejarah: Indonesia 30 September 1965, Prancis Mei 1968 dan Indonesia Mei 1998.

                                                  dok. koleksi pribadi

Disaat meletusnya peristiwa 30 September 1965, Dimas Suryo berada di Chili menggantikan Hananto Prawiro untuk menghadiri konferensi wartawan internasional (International Organization of Journalist). Kondisi di jakarta mencekam. Segala sesuatu yang berhubungan dengan partai komunis (anggota, simpatisan dan keluarga) diamankan. Kantor Berita Nasional yang dekat dengan partai komunis juga digulung tentara.

Sebelum terjadi 30 September di dalam Kantor Berita Nasional terbagi menjadi dua kubu yaitu kubu pengagum PKI dan kubu yang gerah dengan segala sesuatu yang berbau kiri. Dimas tidak menetapkan pilihannya pada ideologi manapun. Dimas berkawan dengan Hananto Prawiro dan Nugroho yang ‘kiri’ tetapi juga suka berdiskusi dengan Bang Amir yang mempunyai pandangan kebalikannya.

Sejarah meski tak tertulis - membutikan, untuk tiga tahun berikutnya setelah 1965, Indonesia memiliki beberapa tahap kekejian: perburuan, penunjukan nama, penggeledahan, penangkapan, penyiksaan, penembakan dan pembantaian. Hananto menghilang dan dia masuk daftar orang-orang yang paling diburu. Kelak, 3 tahun kemudian menjadi horor bagi keluarga Hananto belum juga selesai karena tentara tak kunjung menemukan Hananto. Surti Anandari (istri Hananto) dan ketiga anaknya dibawa ke Budi Kemuliaan dan berdiam disana berbulan-bulan karena pihak tentara merasa dia pasti tahu lokasi suaminya.

Nugroho kehilangan kontak dengan Rukmini (istrinya) dan putra mereka, Bimo, yang berusia setahun. Dari hari ke hari bahkan setiap 3 jam mendengar kabar buruk silih berganti. Anggota partai komunis, keluarga atau mereka yang dianggap simpatisan diburu habis-habisan. Bukan hanya ditangkap tapi terjadi eksekusi besar-besaran di seantero Indonesia bukan hanya di Pulau Jawa.

Lalu jatuhlah bom berikutnya yaitu paspor dicabut. Dimas Suryo, Nugroho, Tjai dan Risjaf menjadi sekelompok manusia tanpa identitas. Merasa seperti menanti pedang Democles jatuh menebas leher. Setiap hari hidup mereka diisi dengan debar jantung karena tak yakin dengan nasib yang terbentang di depan.

Untuk pulang tak mungkin. Untuk melangkah buana masih sulit. Akhirnya Dimas, Nugroho, Tjai dan Risjaf memutuskan pergi ke Peking karena banyak sekali kawan-kawan yang berkumpul disana. Mereka akan bisa membantu persoalan surat-surat perjalanan dan menembus imigrasi.

Nugroho mendengar kabar baik bahwa Rukmini dan Bimo bersembunyi di Yogya. Nugroho menyarankan agar mereka pindah ke Jakarta dan menumpang dengan adik lelaki Nugroho.

Tjai mendapat kabar baik keluarganya selamat menyebrang sampai ke Singapura. Sebetulnya Tjai adalah lelaki paling apolitis dari tiga kawannya. Tjai keturunan Tionghoa yang bekerja di Kantor Berita Nusantara, meski bukan bagian dari redaksi.

Dimas mendarat di Paris awal tahun. Semula terpencar-pencar. Nugroho memilih Swiss dan Risjaf memilih Belanda. Di Paris, Dimas bertemu dengan Tjai dan Theresa istrinya, yang sudah berdiam disana sejak hari Natal. Tak lama kemudian Risjaf segera  bergabung dan berdiam di apartemen kumuh bersama Dimas. Nugroho kecantol perempuan Swiss menunda-nunda kedatangannya hingga bulan April. Namun setelah dibentak oleh Dimas, mengingat Rukmini dan Bimo pasti sedang dikejar rasa takut oleh situasi gila di tanah air, akhirnya Nugroho setuju bergabung bersama di Paris.

Meski Prancis memang dikenal sebagai negara yang memeluk para pengelana politik dengan hangat, tentu tak begitu saja mendapatkan kewarganegaraan. Proses birokrasi untuk menjadi warga negara tetap saja melalui prosedur dan persyaratan yang cukup lama dan rumit. Untuk sementara dapat memegang apa yang disebut Titre de Voyage atau Surat Perjalanan. Kemana saja bisa di dunia, kecuali Indonesia.

Untuk memenuhi kebutuhan hidup di Paris Nugroho sebagai akupuntur. Tjai bekerja di toko kecil di pinggiran kota Paris sebagai akuntan. Risjaf dan Dimas, dua pengelana paling sial. Karena belajar sastra merasa diri bagian dari kumpulan intelektual. Sedangkan Prancis adalah negeri tempat lahirnya para sastrawan dan intelektual besar yang buku-bukunya menjadi pedoman dan panutan. Risjaf dan Dimas setiap tiga atau empat bulan berubah profesi. Dari pekerjaan buruh di berbagai restoran, klerek di bank, hingga asisten kurator di galeri-galeri kecil yang hanya dikunjungi tiga atau empat orang yang sok merasa diri seniman.

Paspor dicabut, berpindah negara, berpindah kota, berubah pekerjaan, berubah keluarga… segalanya terjadi tanpa rencana. Semua terjadi sembari kami terengah-engah berburu identitas seperti ruh yang mengejar-ngejar tubuhnya sendiri — Dimas Suryo.

Paris, Mei 1968.
Ketika gerakan mahasiswa berkecamuk di Paris, Dimas Suryo, seorang eksil politik Indonesia, bertemu Vivienne Devarux, mahasiswa yang ikut demonstrasi melawan pemerintah Prancis. Pada saat yang sama, Dimas menerima kabar dari Jakarta: Hananto Prawiro, sahabatnya ditangkap tentara dan dinyatakan tewas.

Ditengah kesibukannya mengelola Restoran Tanah Air di Paris, Dimas berasama tiga kawannya - Nugroho, Tjai dan Risjaf terus menerus dikejar rasa bersalah karena kawan-kawannya di Indonesia dikejar, ditembak atau menghilang begitu saja dalam perburuan peristiwa 30 September. Apalagi Dimas tak bisa melupakan Surti Anandari - istri Hananto - yang bersama ketiga anaknya berbulan-bulan diintegorasi tentara.

Jakarta, Mei 1998
Lintang Utara, putri Dimas dari perkawinan dengan Vivienne Deveraux, akhirnya berhasil memperoleh visa masuk Indonesia untuk merekam pengalaman keluarga korban tragedi 30 September sebagai tugas akhir kuliahnya. Bersama Segara Alam, putra Hananto, Lintang menjadi saksi mata apa yang kemudian menjadi kerusuhan terbesar dalam sejarah Indonesia: kerusuhan Mei 1998 dan jatuhnya Presiden Indonesia yang sudah berkuasa selama 32 tahun.

Itulah cerita singkat dari novel Pulang karya Leila S. Chudori. Kekurangan novel ini mungkin terlalu banyaknya tokoh-tokoh selain tokoh utama yang diceritakan. Ada beberapa tokoh yang hanya diceritakan sekilas saja. Kelebihan dari novel ini adalah latar belakang cerita ini mengangkat peristiwa-peristiwa besar dalam sejarah seperti peristiwa di tahun 1965, Prancis Mei 1968 dan Jakarta Mei 1998. Begitu menyuarakan sisi kemanusiaan yang hampir menghilang dalam ingatan sejarah. Baru saya ketahui bahwa cerita dalam novel ini berdasarkan kisah nyata dari Umar Said (Alm), Sobron Aidit (Alm), Kusni Sulang sebagai eksil politik menjadi salah satu inspirasi novel ini. Kisah Restoran Tanah Air di Paris merupakan kisah dari restoran Indonesia yang di Paris. Membaca novel ini seperti mengingat kembali yang terjadi di masa lalu dan seakan menyentil pembaca agar tak melupa masa lalu.

Sekali lagi saya mengucapkan terima kasih pada penerbit KPG dan penulisnya mbak Leila S. Chudori karena telah memberi hadiah novel “Pulang” yang begitu menyentuh hati dan menyuarakan sisi kemanusiaan.

Bandung, Desember 2012