Kamis, 13 Juni 2013

[Review] Tadarus Cinta Buya Pujangga

Judul buku: Tadarus Cinta Buya Pujangga
Penulis: Akmal Nasery Basral
Penerbit: Salamadani
Cetakan: I, Maret 2013
Tebal: xii + 380 halaman
ISBN: 978-602-7817-19-7

"Soekarno tampak berkaca-kaca. Dia menjabat pria di depannya dengan kehangatan seorang kakak terhadap adiknya. Saya akan selalu berdoa kepada Allah agar Dinda kelak menjadi suluh penerang bagi bangsa ini, baik lewat karya-karya Dinda sebagai pujangga, maupun sebagai ulama."

Itulah harapan Putra Sang Fajar bagi seseorang yang masa kecilnya hidup bak seorang "pemberontak". Orang memanggilnya Malik. Ia lahir pada suatu Ahad, kala senja merona di langit Minangkabau. Kelincahannya selalu beradu riang dengan riak Danau Maninjau, nyalinya membuntal seolah hendak bergulat dengan Bukit Sibarosok. Ia lahir dan dibesarkan di lingkungan para ulama.

Namun, perceraian ayah-ibunya membuat dia berpaling dari keluarga, dunia luar pun menjadi tempat peraduannya baginya. Pendidikan formalnya terhenti, bahkan ia tak pernah sempat menamatkan Sekolah Desa. Beranjak dewasa, setelah berhaji dan menuntut ilmu di Tanah Suci, Malik memilih jalannya untuk berkiprah di negeri sendiri, menjadi pujangga. Sementara itu, bekal yang ia peroleh selama perantauan mengukuhkan kecakapannya sebagai seorang ulama.

Inilah kisah pergulatan Malik dengan lingkungannya, yang bertubi-tubi menempa watak dan lakunya, hingga kelak namanya mengharum sebagai seorang ulama-pujangga - yang lebih dikenal dengan panggilan: Buya Hamka.

Review:

Membaca novel ini seperti menelusuri sejarah negeri ini, menceritakan pada masa pemerintahan Hindia Belanda, zaman pergerakan hingga muncul nama Indonesia. Novel ini merupakan kisah hidup seorang ulama sekaligus pujangga, Buya Hamka. Banyak pesan moral di dalamnya, misalnya dalam prolog "Dua Bersilang Takdir" begitu besarnya hati Buya Hamka mau menjadi imam dalam shalat jenazah di depan jenazah yang di masa lalunya pernah memenjarakannya selama 30 purnama, akibat komentar-komentar tajam yang dilontarkannya terhadap PKI, partai yang saat itu sedang berbulan madu dengan Sang Proklamator. Satu pelajaran yang bisa dipetik: dendam tak boleh dilestarikan seberat zahra pun. Betapa pun beratnya. Betapa pun sulitnya (hal. 13).

Cerita masa lalu Malik yang penuh cobaan karena ayah ibunya bercerai. Malik mulai mengenal banyak buku dari mendengar bahwa Angku Zainuddin Labai El-Junusy membuka sebuah bibliotek, tempat penyewaan buku. Tak ada buku dalam bahasa Arab di sana, yang ada hanyalah buku-buku kisah Tionghoa-Melayu, kisah Tiga Panglima Perang, Graaf de Monte Cristo, kisah-kisah pertempuran pasukan Rusia melawan Jepang, surat kabar Bintang Hindia yang memuat karangan Dr. A. Rivai dari Eropa, dan banyak buku lainnya yang belum pernah sekalipun dilihat Malik (hal. 112).

Hingga ayahnya, Haji Rasul, melontarkan komentar, "Engkau ini jika besar nanti akan menjadi ulama atau tukang cerita, Malik?" Ingin sekali Malik berani menjawab, "Dua-duanya, Ayahanda!" Tetapi jawaban itu tak pernah keluar dari mulutnya (hal. 114).

Perjalanan hidup Malik membawanya menjadi anggota Sarekat Islam. Sang paman, Ja'far Amrullah, mengajak Malik untuk belajar di Sareat Islam yang bermarkas di Pakualaman, yakni Sarekat Islam Putih yang dipimpin oleh H.O.S Tjokroaminoto, sosok yang menjadi cercaan anak-anak muda revolusioner seperti Zai di Padangpanjang (hal. 156).

Saya mengenal Buya Hamka dari karyanya yang berjudul Di Bawah Lindungan Ka'bah dan sempat nonton filmnya juga beberapa tahun yang lalu bersama saudara sepupu di Tasik pada Hari Raya Idhul Fitri. Dan sekarang saya mengenalnya lebih dekat membaca novelnya yang menceritakan kisah hidupnya, hingga lahir dan dikenal dengan nama pena H.A.M.K.A yang nama lengkapnya Haji Abdul Malik Karim Abdullah. Juga baru tahu karya roman pertamanya Si Sabariyah dari membaca novel ini.

Ada kutipan yang perlu dicatat, "Malik: lakukan segalanya dengan niat mengharapkan keridhaan Allah saja. Ikhlas. Jangan harapkan pujian manusia." (hal. 171).

Ada beberapa kesalahan teknis (typo) di dalamnya, ".... itu lebih Berdasarkan keinginan ..." (hal. 129) huruf kapital terletak tidak di awal kalimat, ".... dari yang dIsyaratkan perkumpulan ..." (hal. 156), "Dalam perjalan pulang ..." seharusnya perjalanan (hal. 167). Itu mungkin beberapa kesalahan teknis yang saya temukan. Juga dalam novel ini kurang diceritakan bagaimana kehidupan ibunya setelah menikah dengan saudagar Deli. Banyak menceritakan kisah hidup ayahnya, Haji Rasul. Rasanya kurang lengkap tidak menceritakan keduanya setelah bercerai.

Terakhir saya beri 4 dari 5 bintang untuk novel ini, penuh dengan informasi sejarah negeri ini. Rekomendasi buat para penyuka buku-buku sejarah dan roman Islami. Banyak petuah positif bertebaran di dalamnya. Selamat membaca.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar