Minggu, 21 April 2013

[Review] Pulang

Judul buku: Pulang
Penulis: Leila S. Chudori
Penerbit: KPG
Cetakan: Pertama, Desember 2012
Tebal: viii + 464 halaman
ISBN 13: 978-979-91-0515-8
Harga: Rp 70.000




Hari ini mumpung hari libur yang cuacanya cerah dari beberapa hari kemarin yang selalu hujan dan banjir. Hari libur kali ini mengisi hari dengan menulis resensi buku “Pulang” karya Leila S. Chudori. Mungkin tulisan ini sebagai ucapan terima kasih karena telah diberi novel “Pulang” secara gratisan dalam kuis di twitter bulan November. Terima kasih sudah memberi kesempatan buat saya memiliki dan membaca karya yang bagus dari penulis lawas. Satu kata “mantaaapp” pantas untuk novel ini.

Baiklah, tanpa harus lama-lama lagi mari mulai menyimak isi cerita novel “Pulang” tersebut. Dijamin membacanya menumbuhkan rasa kecintaan terhadap negeri sendiri karena belajar memahami sejarah bangsa ini. Meski novel ini menceritakan kisah atau peristiwa di tahun 1965 namun penulisnya tidak berniat untuk menceritakan siapa yang benar dan siapa yang salah dibalik peristiwa 30 September 1965 itu. Novel ini hanya sebuah drama keluarga, persahabatan, cinta dan pengkhianatan berlatar belakang tiga peristiwa sejarah: Indonesia 30 September 1965, Prancis Mei 1968 dan Indonesia Mei 1998.

                                                  dok. koleksi pribadi

Disaat meletusnya peristiwa 30 September 1965, Dimas Suryo berada di Chili menggantikan Hananto Prawiro untuk menghadiri konferensi wartawan internasional (International Organization of Journalist). Kondisi di jakarta mencekam. Segala sesuatu yang berhubungan dengan partai komunis (anggota, simpatisan dan keluarga) diamankan. Kantor Berita Nasional yang dekat dengan partai komunis juga digulung tentara.

Sebelum terjadi 30 September di dalam Kantor Berita Nasional terbagi menjadi dua kubu yaitu kubu pengagum PKI dan kubu yang gerah dengan segala sesuatu yang berbau kiri. Dimas tidak menetapkan pilihannya pada ideologi manapun. Dimas berkawan dengan Hananto Prawiro dan Nugroho yang ‘kiri’ tetapi juga suka berdiskusi dengan Bang Amir yang mempunyai pandangan kebalikannya.

Sejarah meski tak tertulis - membutikan, untuk tiga tahun berikutnya setelah 1965, Indonesia memiliki beberapa tahap kekejian: perburuan, penunjukan nama, penggeledahan, penangkapan, penyiksaan, penembakan dan pembantaian. Hananto menghilang dan dia masuk daftar orang-orang yang paling diburu. Kelak, 3 tahun kemudian menjadi horor bagi keluarga Hananto belum juga selesai karena tentara tak kunjung menemukan Hananto. Surti Anandari (istri Hananto) dan ketiga anaknya dibawa ke Budi Kemuliaan dan berdiam disana berbulan-bulan karena pihak tentara merasa dia pasti tahu lokasi suaminya.

Nugroho kehilangan kontak dengan Rukmini (istrinya) dan putra mereka, Bimo, yang berusia setahun. Dari hari ke hari bahkan setiap 3 jam mendengar kabar buruk silih berganti. Anggota partai komunis, keluarga atau mereka yang dianggap simpatisan diburu habis-habisan. Bukan hanya ditangkap tapi terjadi eksekusi besar-besaran di seantero Indonesia bukan hanya di Pulau Jawa.

Lalu jatuhlah bom berikutnya yaitu paspor dicabut. Dimas Suryo, Nugroho, Tjai dan Risjaf menjadi sekelompok manusia tanpa identitas. Merasa seperti menanti pedang Democles jatuh menebas leher. Setiap hari hidup mereka diisi dengan debar jantung karena tak yakin dengan nasib yang terbentang di depan.

Untuk pulang tak mungkin. Untuk melangkah buana masih sulit. Akhirnya Dimas, Nugroho, Tjai dan Risjaf memutuskan pergi ke Peking karena banyak sekali kawan-kawan yang berkumpul disana. Mereka akan bisa membantu persoalan surat-surat perjalanan dan menembus imigrasi.

Nugroho mendengar kabar baik bahwa Rukmini dan Bimo bersembunyi di Yogya. Nugroho menyarankan agar mereka pindah ke Jakarta dan menumpang dengan adik lelaki Nugroho.

Tjai mendapat kabar baik keluarganya selamat menyebrang sampai ke Singapura. Sebetulnya Tjai adalah lelaki paling apolitis dari tiga kawannya. Tjai keturunan Tionghoa yang bekerja di Kantor Berita Nusantara, meski bukan bagian dari redaksi.

Dimas mendarat di Paris awal tahun. Semula terpencar-pencar. Nugroho memilih Swiss dan Risjaf memilih Belanda. Di Paris, Dimas bertemu dengan Tjai dan Theresa istrinya, yang sudah berdiam disana sejak hari Natal. Tak lama kemudian Risjaf segera  bergabung dan berdiam di apartemen kumuh bersama Dimas. Nugroho kecantol perempuan Swiss menunda-nunda kedatangannya hingga bulan April. Namun setelah dibentak oleh Dimas, mengingat Rukmini dan Bimo pasti sedang dikejar rasa takut oleh situasi gila di tanah air, akhirnya Nugroho setuju bergabung bersama di Paris.

Meski Prancis memang dikenal sebagai negara yang memeluk para pengelana politik dengan hangat, tentu tak begitu saja mendapatkan kewarganegaraan. Proses birokrasi untuk menjadi warga negara tetap saja melalui prosedur dan persyaratan yang cukup lama dan rumit. Untuk sementara dapat memegang apa yang disebut Titre de Voyage atau Surat Perjalanan. Kemana saja bisa di dunia, kecuali Indonesia.

Untuk memenuhi kebutuhan hidup di Paris Nugroho sebagai akupuntur. Tjai bekerja di toko kecil di pinggiran kota Paris sebagai akuntan. Risjaf dan Dimas, dua pengelana paling sial. Karena belajar sastra merasa diri bagian dari kumpulan intelektual. Sedangkan Prancis adalah negeri tempat lahirnya para sastrawan dan intelektual besar yang buku-bukunya menjadi pedoman dan panutan. Risjaf dan Dimas setiap tiga atau empat bulan berubah profesi. Dari pekerjaan buruh di berbagai restoran, klerek di bank, hingga asisten kurator di galeri-galeri kecil yang hanya dikunjungi tiga atau empat orang yang sok merasa diri seniman.

Paspor dicabut, berpindah negara, berpindah kota, berubah pekerjaan, berubah keluarga… segalanya terjadi tanpa rencana. Semua terjadi sembari kami terengah-engah berburu identitas seperti ruh yang mengejar-ngejar tubuhnya sendiri — Dimas Suryo.

Paris, Mei 1968.
Ketika gerakan mahasiswa berkecamuk di Paris, Dimas Suryo, seorang eksil politik Indonesia, bertemu Vivienne Devarux, mahasiswa yang ikut demonstrasi melawan pemerintah Prancis. Pada saat yang sama, Dimas menerima kabar dari Jakarta: Hananto Prawiro, sahabatnya ditangkap tentara dan dinyatakan tewas.

Ditengah kesibukannya mengelola Restoran Tanah Air di Paris, Dimas berasama tiga kawannya - Nugroho, Tjai dan Risjaf terus menerus dikejar rasa bersalah karena kawan-kawannya di Indonesia dikejar, ditembak atau menghilang begitu saja dalam perburuan peristiwa 30 September. Apalagi Dimas tak bisa melupakan Surti Anandari - istri Hananto - yang bersama ketiga anaknya berbulan-bulan diintegorasi tentara.

Jakarta, Mei 1998
Lintang Utara, putri Dimas dari perkawinan dengan Vivienne Deveraux, akhirnya berhasil memperoleh visa masuk Indonesia untuk merekam pengalaman keluarga korban tragedi 30 September sebagai tugas akhir kuliahnya. Bersama Segara Alam, putra Hananto, Lintang menjadi saksi mata apa yang kemudian menjadi kerusuhan terbesar dalam sejarah Indonesia: kerusuhan Mei 1998 dan jatuhnya Presiden Indonesia yang sudah berkuasa selama 32 tahun.

Itulah cerita singkat dari novel Pulang karya Leila S. Chudori. Kekurangan novel ini mungkin terlalu banyaknya tokoh-tokoh selain tokoh utama yang diceritakan. Ada beberapa tokoh yang hanya diceritakan sekilas saja. Kelebihan dari novel ini adalah latar belakang cerita ini mengangkat peristiwa-peristiwa besar dalam sejarah seperti peristiwa di tahun 1965, Prancis Mei 1968 dan Jakarta Mei 1998. Begitu menyuarakan sisi kemanusiaan yang hampir menghilang dalam ingatan sejarah. Baru saya ketahui bahwa cerita dalam novel ini berdasarkan kisah nyata dari Umar Said (Alm), Sobron Aidit (Alm), Kusni Sulang sebagai eksil politik menjadi salah satu inspirasi novel ini. Kisah Restoran Tanah Air di Paris merupakan kisah dari restoran Indonesia yang di Paris. Membaca novel ini seperti mengingat kembali yang terjadi di masa lalu dan seakan menyentil pembaca agar tak melupa masa lalu.

Sekali lagi saya mengucapkan terima kasih pada penerbit KPG dan penulisnya mbak Leila S. Chudori karena telah memberi hadiah novel “Pulang” yang begitu menyentuh hati dan menyuarakan sisi kemanusiaan.

Bandung, Desember 2012

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar