Minggu, 21 April 2013

[Review] Abdel & Mongol: It's Real, Man!

Judul buku: Abdel & Mongol: It's Real, Man!
Penulis: Abdel dan Mongol
Penerbit: edelweiss
Cetakan: I, Oktober 2012
Tebal: ix + 354 halaman
ISBN: 978-602-8672-56-6
Harga: Rp 65.000

                                                                 dok. koleksi pribadi


Tak ada yang menyangka dua orang komedian ini, Abdel dan Mongol mampu menghibur dan membuat pembaca merenung membaca buku yang mereka tulis. Awalnya tidak menyangka kisah perjalanan hidup mereka berdua itu penuh lika-liku untuk mencapai kesuksesan mereka hari ini. Dikenal sebagai seorang komedian. Kisah perjalanan hidup mereka itu lucu sekaligus sendu, membacanya terkadang tertawa, senyum-senyum juga terdiam merenung sambil manggut-manggut.

Siapa yang menyangka dulunya bang Abdel itu mempunyai cita-cita menjadi pilot. Kenyataannya tidak tercapai alasannya simple aja karena enggak kuat lari. Akhirnya cita-cita jadi pilot nyangkut jadi komedian :D Menurut pengakuannya bang Abdel belajar humor sejak masuk ke radio Suara Kejayaan (SK). Ide humor bisa datang dari mana saja. Sebenarnya, untuk menjadi komedian harus cerdas menjebak karena humor adalah kemampuan untuk menjebak orang lain. Sama seperti sulap. Pesulap menggiring orang ke satu tempat yang kita mau, kalau sudah sampai ke tempat yang kita mau, kita jebak deh.

Humor merupakan kemampuan kita menjebak pikiran orang lain. Tapi kita jebaknya ke yang lucu. Komedian juga sama dengan politisi loh . Menjebak juga. Awal kampanye menjanjikan macam-macam, setelah terpilih pura-pura lupa sama janjinya . Kita dijebak. Persis. Kalau sulap memanipulasi penglihatan, kalau humor itu memanipulasi jalan pikiran. Nah, kalau politisi itu, yah memanipulasi uang rakyat :D

Kalau ke Stand Up Comedy lumayan panjang ceritanya. Karena dalam hidup gue banyak yang kebetulan. Masuk radio juga karena kebetulan kan? Nah, masuk tivi juga begitu, kebetulan. Stand Up Comedy dulu awalnya dibuat oleh Kompas, para comic ada di Kompas TV. Nah, Metro TV bikin acara yang sama tapi belum ada orang. Jadi, Metro TV trial and error dengan mengambil orang untuk mengisi acara itu. Banyak juga yang dipanggil setelah itu enggak dipanggil lagi. Stand Up Comedy itu ada teorinya karena acara ini merupakan komedi yang mencoba meneorikan komedi. Kebetulan pas dites dipanggil lagi, dipanggil lagi dan dipanggil lagi. Sampai sekarang ngomic.

Ada yang unik tentang proses kelulusan bang Abdel sebagai seorang mahasiswa HI tahun ‘89 dan lulus ‘96 dari Universitas Indonesia. Lulus kuliah selama tujuh tahun itupun lulus karena jadi event organizer (EO). Singkat cerita, lulus dengan nilai A, bukan karena nilai skripsi tapi karena acara ultah jurusan HI dan kebetulan jadi event organizernya yang bisa dibilang sukses.

Kehidupan itu sebuah tragedi. Dan itu bisa menimpa siapa pun tidak terkecuali seorang komedian. Dulu bang Abdel pernah terjerat drugs juga loh.. Sampai harus menjalani semua pengobatan dan rehabilitasi sejak tahun 1996 sampai akhirnya benar-benar sembuh tahun 2003. Gagal ke dokter Al Bahrie lanjut ke Dadang Hawari. Sempat satu tahun masuk Inabah 15 di ponpes Suryalaya, Tasikmalaya. Pulang dari pesantren Suryalaya melanjutkan pengobatan di pesantren Darul Ikhsan Bogor.

Meski sering dibilang gen-gen lucu itu menurun dari Mami, tapi sesungguhnya Papi juga tidak kalah kocak. Satu-satunya pertanyaan yang pernah ditanyain ke Papi adalah: “Pi, kalau nanti tiba saatnya, apa permintaan terakhir Papi ke Abdel?”

“Kalau nanti Papi mati permintaan terakhir Papi ke lu dan harus lu lakuin adalah Papi minta dikuburin karena Papi enggak bisa ngubur diri sendiri…”. Kata-katanya dalem tapi lucu juga.

Diakhir-akhir hidupnya, Mami sering kali minta ditemani jalan-jalan. Akhirnya, Mami diajak ke mal yang mewah sekalian, biar adem, sambil di dorong kursi roda tentunya. Mami minta mampir masuk ke toko tas branded yang mahal. Mami tanya berapa harganya tapi dilihat tidak ada banderol harganya. Akhirnya tanya ke pramuniaga, kemudian kembali lagi ke Mami untuk kasih tahu harganya. “Berapa?”, tanya Mami. “9,4 juta Mi”. Mami bilang “Mahal banget, Deeeeelll”. “Kata penjaga tokonya tas ini mahal karena terbuat dari kulit kerbau asli”. Terus mami ngomong, “Enggak masuk akal, masa cuma karena dari kulit kebo aja harganya sampai segitu. Kemarin gue beli kebo lengkap, daging sama kulit-kulitnya aja enggak sampai segitu harganya!”. Jujur baca ini spontan saya ngakak, hihihi… :D

Giliran ceritanya bang Mongol. Siapa sangka gue yang ditakdirkan jadi anak kecil berbadan kurus, sipit, wajah Manado enggak niat, Cina juga setengah menitis dari engkong-engkongnya papa yang asli Mongolia justru jadi modal gue berkarir.

Menjadi orang Manado bukan kemauan atau pesanan gue. Ada secercah kebanggaan sekaligus keprihatinan mendapat berkah sebagai orang Manado. Selain dikenal sebagai ras keturunan yang unggul dengan kulit bersih, tulang besar plus bodi oke sampai wajah bersih sempurna.  Sampai ada salah satu pedagang di Pasar Senen yang penasaran dan tanya, “Orang mana, Bang?”. “Manado asli. Butuh lihat KTP gue?”. “Ooh, biasanya orang Manado itu ganteng, kulit putih dan hidung mancung. Lah, kau macam bodat (monyet dalam bahasa Batak) begitu”, ujarnya dengan tampang lugu trapesium khas Batak. Hihihi… kasian banget bang Mongol, itu sih nasib muka aja bang, piss :D

Masih banyak cerita gokil tentang bang Mongol dengan ciri khasnya “sebagai pakar KW”, itu yang selalu jadi bahan jokenya. Lucuuuu…

Sekarang lagi wabah soal KW bawa motor, tapi motornya matic, seperti Scoopy. Badan kekar, Coy, ya Allah bawa motor lutut ketemu lutut. Ya Allah, Cyiiin, enggak mungkin normal. Mana ada cowok naik motor lutut ketemu lutut? Ya, kan? Berhenti lampu merah, kaki turun, “Panas, Cyiiin”. (sambil kipas-kipas). Jarinya ngetril, Ya Allah. Kenapa jarinya ngetril? Setelah gue selidiki , karena ternyata laki itu pengin kayak patung Pancoran. Patung Pancoran boleh kaki, Cyiiin tapi jari kelingkingnya naik daripada jari yang lain. Ya Allah.

Ampuuun.. bacanya bikin tertawa sendiri, senyum-senyum sendiri, gokil abis :D
Mungkin itu sebagian cerita lucu sekaligus sendu yang dalam buku yang berjudul Abdel & Mongol : It’s Real, Man!. Banyak belajar kehidupan dari dua orang komedian ini. Sepahit apa pun kehidupan kita pasti ada yang membuat tersenyum dan tertawa. Dibawa bahagia saja meski tidak seindah yang dibayangkan.

Seperti biasa saya ucapkan terima kasih pada penerbit edelweiss yang sudah memberi buku ini secara cuma-cuma dari hasil kuis di twitter. Senangnyaaa bisa membaca buku ini :D

Bandung, Januari 2013

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar